Sabtu, Januari 31, 2026

Buy now

spot_img

Fenomena “Isor Terop”, Saat Dompet Menangis di Tengah Pesta Pora

MAGETAN (BLOKJATIM.COM) – Bagi warga Jawa, khususnya di wilayah Magetan dan sekitarnya, pemandangan tenda besar atau terop yang menutup sebagian jalan desa bukan lagi hal asing dalam beberapa pekan terakhir. Masuknya bulan Ruwah (Sya’ban) dalam penanggalan Hijriah atau Jawa, menandakan dimulainya musim “maraton” hajatan yang menguras energi dan tentu saja, isi kantong.

Fenomena ini akrab disebut warga sebagai fenomena “Isor Terop” (di bawah tenda). Sebuah fase di mana masyarakat menghabiskan banyak waktunya berpindah dari satu tenda hajatan ke tenda lainnya.

Tradisi yang Tak Bisa Ditawar

Bulan Ruwah, dengan pasaran Pahing di tahun Dal kali ini, dianggap sebagai waktu “keramat” sekaligus penuh berkah. Berdasarkan primbon Jawa, Ruwah dipercaya membawa kedamaian dan keselamatan bagi pasangan yang baru menikah. Tak heran, sebelum pintu Ramadan diketuk, warga berbondong-bondong menggelar pesta, mulai dari pernikahan hingga khitanan.

Selain itu, nilai spiritual Ngluru Arwah atau mendoakan leluhur membuat suasana kekeluargaan sedang tinggi-tingginya. Sayangnya, bagi sebagian orang, tingginya rasa kekeluargaan ini berbanding lurus dengan tipisnya dompet di akhir bulan.

Antara Guyub dan “Jebolnya” Anggaran

Di balik keceriaan suara Sound Horeg yang menggelegar di isor terop, ada kalkulasi rumit yang dipikirkan para tamu undangan. Tradisi buwuh (memberi sumbangan) adalah kewajiban sosial yang tak tertulis namun mengikat.

“Bulan ini undangan bisa sampai belasan. Sekali datang, amplop isinya paling sedikit Rp 50 ribu, kalau saudara atau tetangga dekat bisa ratusan ribu sampai jutaan. Hitung saja kalau ada sepuluh undangan, gaji sebulan bisa habis buat isor terop saja,” ujar salah satu warga sambil berkelakar.

Fenomena ini menciptakan dilema unik. Di satu sisi, isor terop adalah simbol gotong royong dan tempat rewang (membantu tetangga) yang mempererat silaturahmi. Di sisi lain, akumulasi nilai sumbangan di puncak musim hajatan ini sering kali bikin “kantong bolong” tepat sebelum kebutuhan pokok naik menjelang Lebaran.

Menuntaskan Hajat Sebelum Ramadhan

Alasan utama kepadatan ini adalah efisiensi spiritual. Masyarakat ingin menyelesaikan segala bentuk perayaan sebelum bulan suci tiba agar bisa fokus beribadah tanpa terganggu urusan pesta. Setelah Ruwah berakhir, aktivitas isor terop akan berhenti total selama sebulan penuh, sebelum kembali “meledak” di bulan Syawal atau saat Lebaran tiba.

Bagi masyarakat Jawa, isor terop bukan sekadar tempat makan gratis atau mendengarkan musik. Ia adalah panggung ujian kesetiaan sosial, di mana doa untuk pengantin dan doa untuk kelangsungan dompet dipanjatkan secara bersamaan.(*)

Related Articles

- Advertisement -

Terbaru