MAGETAN (BLOKJATIM.COM) – Sudut Jalan Kartini, tepat di depan pertigaan Kantor Diskominfo Magetan, kini punya wajah baru. Sebuah bangunan yang baru saja diresmikan pada Kamis (12/2/2026) itu bukan sekadar gedung biasa. Bagi para pemburu berita di Magetan, tempat ini adalah “rumah” yang telah lama dinanti.
Peresmian Balai Wartawan oleh Bupati Magetan, Nanik Sumantri, menjadi kado manis di tengah perayaan Hari Pers Nasional (HPN) 2026. Suasana hangat menyelimuti acara yang dihadiri oleh Wakil Bupati, Sekda, hingga puluhan jurnalis yang biasanya sibuk mengejar deadline di lapangan.
Bupati Nanik Sumantri dalam sambutannya menekankan bahwa fasilitas ini bukan hanya tentang fisik bangunan, melainkan tentang ruh jurnalisme yang sehat. Ia bermimpi balai ini menjadi inkubator ide dan kolaborasi.
“Kami mohon dipergunakan dengan sebaik-baiknya untuk ruang diskusi, berkoordinasi, dan membuat berita yang benar-benar membangun Magetan. Bukan berita abal-abal,” tegas Bupati Nanik.
Meski fasilitas di dalam ruangan akan dilengkapi secara bertahap, pesan Bupati sudah jelas, kualitas informasi adalah prioritas. Menariknya, Bupati juga menyelipkan pesan santun terkait etika di gedung pemerintahan, yakni menjaga kebersihan udara dengan tidak merokok di dalam ruangan.
Dalam keriuhan peresmian tersebut, perwakilan PWI Magetan, Anton Suroso, melontarkan filosofi yang cukup menggelitik sekaligus reflektif, yakni “Jenang dan Jeneng”.
Dua kata dari bahasa Jawa ini merangkum realitas dunia media saat ini:
Jenang (Materi/Kesejahteraan): Mengingatkan bahwa perusahaan media tetap butuh dukungan anggaran publikasi agar dapur redaksi tetap ngebul dan operasional berjalan lancar.
Jeneng (Nama Baik/Kualitas): Menitikberatkan pada peningkatan SDM wartawan Magetan melalui Uji Kompetensi Wartawan (UKW).
Anton blak-blakan soal tantangan kompetensi di Magetan. Dari 73 wartawan yang terdaftar di Siwama, pemegang sertifikasi tingkat Utama, Madya bahakan muda masih tergolong minim. “Kami berharap ada sinergi ke depan untuk mengadakan uji kompetensi lagi agar SDM wartawan kita semakin berkelas,” ungkapnya.
Hadirnya Balai Wartawan ini diharapkan menjadi titik balik. Bukan hanya tempat berteduh saat hujan atau sekadar mengirim berita, tapi menjadi simbol kemitraan yang kritis namun konstruktif antara pemerintah dan media.
Kini, bola ada di tangan para insan pers. Dengan fasilitas yang lebih dekat dengan pusat informasi pemerintahan, publik menanti karya-karya jurnalistik yang tidak hanya cepat, tapi juga akurat dan mengedukasi masyarakat Magetan.(red)

