MAGETAN (BLOKJATIM.COM) – Harapan tinggi sempat membuncah di kalangan perajin roti bolu khas Magetan saat Wakil Bupati Suyatni Priasmoro mengusulkan kudapan lokal tersebut masuk dalam menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Namun, sepekan berlalu, usulan tersebut dirasa para pelaku UMKM masih sebatas wacana yang belum menyentuh dapur produksi mereka.
Bagi para pengusaha roti “ndok” sebutan akrab roti bolu lokal, janji keterlibatan dalam proyek nasional ini terasa seperti “angin surga” yang belum kunjung menjadi nyata. Hingga saat ini, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah Magetan dinilai belum melirik produk lokal tersebut.
Cosi, pemilik usaha Roti Bolu Citra Menjangan asal Desa Milangasri, Kecamatan Panekan, mengaku hingga kini belum menerima pesanan sama sekali dari pihak SPPG untuk keperluan MBG. Padahal, lokasi usahanya dikelilingi oleh beberapa titik layanan gizi tersebut.
“Sampai hari ini belum ada (pesanan) sama sekali. Kami sangat berharap usulan Wakil Bupati benar-benar diterima oleh SPPG, sehingga produk lokal bisa jadi bagian dari menu MBG,” ujar Cosi saat ditemui, Sabtu (14/2/2026).
Menurut Cosi, dukungan kebijakan saja tidak cukup. Ia menekankan pentingnya pengawalan agar instruksi dari pimpinan daerah benar-benar turun ke pelaksana teknis di lapangan.
“Kalau tidak dikawal, ya susah. Buktinya SPPG di sekitar Milangasri ini banyak, tapi belum ada yang memakai produk kami. Kondisi pasar saat ini sedang sulit, sampai-sampai saya harus berkeliling sendiri jualan hingga ke luar daerah,” imbuhnya.
Diberitakan sebelumnya, Wakil Bupati Magetan Suyatni Priasmoro telah menyuarakan kegelisahannya dalam acara Sosialisasi Tata Kelola MBG di Madiun, Senin (9/2/2026). Ia mengkritik dominasi produk pabrikan besar yang mulai menggeser potensi pangan lokal dalam program pemerintah tersebut.
“Kenapa tidak roti ndok saja yang masuk menu MBG? Itu produk lokal khas Magetan. Jangan semuanya dari pabrikan besar,” tegas Suyatni di Kantor Pemkab Magetan, Selasa (10/2/2026).
Suyatni juga menyoroti adanya praktik penyediaan bahan pangan oleh pengelola SPPG yang justru mendatangkan pasokan dari luar daerah, bahkan luar provinsi. Menurutnya, hal ini menyimpang dari semangat Presiden untuk menggerakkan ekonomi kerakyatan melalui penyerapan potensi lokal.
“Kalau bahan makanannya dikirim dari luar daerah, di Magetan tidak ada penyerapan apa pun. Padahal tujuannya jelas untuk menggerakkan ekonomi warga setempat,” tandasnya.
Kini, bola panas berada di tangan pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi. Para perajin roti bolu di Magetan menanti langkah nyata, apakah roti kebanggaan warga lereng Lawu ini akan bersanding di meja makan anak sekolah, atau tetap sekadar menjadi komoditas yang harus “berjuang sendiri” di jalanan.(*)

