LOMBOK TIMUR (BLOKJATIM.COM) – Momentum emosional mewarnai Musyawarah Anak Cabang (Musancab) PDI Perjuangan Lombok Timur yang digelar di Gedung Wanita Selong, Sabtu (14/2/2026). Di hadapan ratusan kader, Ketua DPD PDI Perjuangan NTB, H. Rachmat Hidayat, memberikan sinyal kuat bahwa masa kepemimpinannya saat ini akan menjadi pengabdian terakhirnya di pucuk pimpinan partai tingkat provinsi.
Politisi kharismatik yang telah menakhodai PDI Perjuangan NTB sejak tahun 2000 ini menegaskan komitmennya untuk menghabiskan sisa masa jabatan hingga 2030 dengan turun langsung ke akar rumput.
“Ini periode terakhir saya. Saya akan keliling kecamatan di seluruh Lombok Timur dan juga Pulau Lombok. Saya ingin memastikan PAC dan ranting hidup, bergerak, dan benar-benar bersama rakyat,” tegas Rachmat di tengah gemuruh tepuk tangan peserta.
Musancab kali ini bukan sekadar agenda rutin organisasi. Rachmat memberikan kejutan dengan menghadirkan para pejuang partai era 1980-an. Kehadiran para veteran ini bertujuan untuk membakar semangat 777 peserta yang hadir, mengingatkan mereka pada masa sulit Orde Baru di mana PDIP (saat itu PDI) mampu meraih enam kursi di DPRD Lombok Timur meski di bawah tekanan rezim.
Rachmat menekankan bahwa kejayaan masa lalu harus menjadi pelecut bagi kader masa kini yang saat ini memiliki tiga kursi di parlemen daerah.
“Dari daerah inilah perlawanan itu dibangun. Kita pernah enam kursi, di masa yang tidak mudah. Sekarang tinggal tiga, tapi jangan pernah merasa kecil. Dari tiga kita bisa kembali ke enam,” ujar Anggota DPR RI empat periode tersebut dengan suara bergetar.
Beliau juga mengingatkan bahwa kekuatan partai terletak pada militansi di tengah masyarakat, bukan sekadar retorika.
“Jangan hanya pandai bicara di forum. Temui rakyat, dengarkan keluhan mereka, dekati tokoh masyarakat. Partai ini hidup kalau kadernya hidup di tengah rakyat,” tambahnya.
Senada dengan Rachmat, Ketua DPC PDI Perjuangan Lombok Timur, Ahmad Sukro, melontarkan otokritik tajam dalam laporannya. Ia meminta seluruh kader untuk melakukan introspeksi total guna memperbaiki posisi partai di mata publik Lombok Timur.
“Kita harus jujur melihat diri sendiri. Ini saatnya bangkit, memperbaiki struktur partai dari atas sampai ranting. Kita tidak ingin PDI Perjuangan dianggap tidak ada,” cetus Sukro.
Ia menegaskan bahwa Lombok Timur memiliki beban sejarah yang besar untuk dijaga.
“Di sinilah sejarah itu dibangun. Jangan sampai kita membuat malu perjuangan para pendahulu. Lombok Timur harus jadi sesuatu yang berbeda dibanding DPC lainnya,” lanjutnya.
Menatap Pemilu 2029, Rachmat Hidayat secara khusus menyoroti peran generasi muda. Baginya, transisi kepemimpinan yang ia canangkan harus disambut oleh kader muda yang cerdas dan kritis.
“Zamannya anak muda. Mereka independen, cerdas, dan kritis. Kalau kita tidak mendekati mereka dari sekarang, kita akan tertinggal,” pungkasnya.
Acara yang berlangsung sakral ini turut dihadiri jajaran petinggi DPD PDIP NTB seperti H. Ruslan Turmuzi, Made Slamet, Raden Nuna Abriadi, hingga anggota fraksi PDIP di tingkat provinsi dan kabupaten. Musancab ditutup dengan satu pesan sentral: mengembalikan kejayaan Banteng dengan cara kembali membumi bersama rakyat.(*)

