Senin, Februari 16, 2026

Buy now

spot_img

Magetan Dorong Anak Muda Gali Sejarah Lewat Festival Budaya Nrang Kusumo

MAGETAN (BLOKJATIM.COM) – Ribuan masyarakat memadati Lapangan Kertajaya, Kelurahan Bulukerto, untuk mengikuti prosesi pembagian Apem Al Afuwwu dalam gelaran Festival Budaya Nrang Kusumo, Sabtu (14/2/2026).

Acara tahunan ini tidak sekadar menjadi perayaan simbolis menjelang Ramadhan, tetapi kini diarahkan menjadi instrumen penguatan identitas lokal bagi generasi muda. Wakil Bupati Magetan, Kang Suyat, menegaskan bahwa keterlibatan pelajar dalam festival ini sangat krusial untuk memastikan estafet sejarah dan nilai-nilai luhur daerah tidak terputus di tengah gempuran modernisasi.

Tradisi pembagian Apem Al Afuwwu menjadi pusat perhatian dalam festival ini. Secara filosofis, kue apem tersebut melambangkan permohonan maaf (afwun) antar sesama warga. Selain sebagai bentuk kesiapan spiritual menyambut bulan suci Ramadhan, kegiatan ini merupakan manifestasi rasa syukur kepada Tuhan serta penghormatan terhadap jasa para leluhur Kelurahan Bulukerto.

Dalam kesempatan ini, Kang Suyat, memberikan apresiasi tinggi terhadap konsistensi warga dalam menjaga kekayaan budaya ini. Ia menekankan bahwa esensi festival bukan hanya terletak pada kemeriahan seremoni, melainkan pada penggalian potensi seni yang menjadi akar masyarakat Magetan.

Kang Suyat juga memberikan catatan khusus kepada panitia penyelenggara agar memperluas keterlibatan anak muda. Menurutnya, pelajar tidak boleh hanya menjadi penonton atau pengisi acara di atas panggung.

“Festival budaya hendaknya kita maknai betul hakikat diadakannya, yaitu untuk menggali dan melestarikan potensi seni budaya daerah,” jelas Kang Suyat. Beliau menambahkan bahwa aspek pembelajaran sejarah di balik setiap ritual harus tersampaikan dengan jelas kepada generasi Z dan Alpha agar mereka memahami asal-usul tanah kelahirannya.

Secara nasional, inisiatif seperti Festival Nrang Kusumo merupakan fondasi penting dalam menjaga ketahanan budaya Indonesia. Di tengah krisis identitas yang sering dialami generasi muda, penguatan narasi sejarah lokal berfungsi sebagai “jangkar” moral dan sosial. Ketika sebuah daerah berhasil mengintegrasikan nilai tradisional ke dalam sistem pembelajaran anak muda, hal itu secara otomatis memperkuat kohesi sosial dan menciptakan masyarakat yang lebih tangguh serta menghargai proses pembangunan berbasis kearifan lokal.(*)

Related Articles

- Advertisement -

Terbaru