Kamis, Februari 19, 2026

Buy now

spot_img

Sejukkan Tensi Politik, Tokoh INDEMO Ajak Aktivis Perkuat Silaturahmi Jelang Ramadhan

JAKARTA (BLOKJATIM.COM) – Di tengah dinamika kebangsaan yang dinamis, para aktivis demokrasi yang tergabung dalam Indonesian Democracy Monitor (INDEMO) memilih jalur spiritualitas untuk mendinginkan suasana. Dipimpin oleh tokoh Malari, Hariman Siregar, para aktivis lintas generasi ini menggelar pertemuan bertajuk “Menyambut Ramadhan” di Pantai Ancol, Jakarta, sebagai upaya menjaga solidaritas aktivis dan mempererat persaudaraan masyarakat sipil sebelum memasuki bulan suci.

Langkah ini dipandang penting bagi masyarakat luas sebagai simbol bahwa perbedaan pandangan politik dapat dikesampingkan demi nilai-nilai kemanusiaan dan spiritualitas. Momentum Ramadhan dijadikan titik balik bagi para penggerak demokrasi untuk melepaskan diri dari hiruk-pukuk kekuasaan jasmani menuju kedamaian rohani.

Meskipun INDEMO selama ini dikenal sebagai produsen ide-ide kritis dan pengawal tata kelola kekuasaan yang adil, pertemuan kali ini murni bersifat sosial. Hariman Siregar menegaskan bahwa tidak ada agenda politik terselubung dalam silaturahmi di pesisir Jakarta tersebut.

Suasana cair tampak saat para tokoh berbincang santai mengenai persoalan keseharian yang juga dirasakan masyarakat umum, salah satunya mengenai Tunjangan Hari Raya (THR).

“Menjelang Ramadhan, kita ini pusing juga memikirkan Tunjangan Hari Raya,” ujar Hariman Siregar yang disambut tawa akrab para hadirin.

Senada dengan Hariman, Wakil Ketua BP TASKIN, Iwan Sumule, mengamini kondisi tersebut. “Sama Bang… Aku juga pusing didera persoalan THR,” selorohnya. Dialog sederhana ini menunjukkan sisi humanis para aktivis yang tetap berpijak pada realitas sosial yang dihadapi masyarakat luas setiap menjelang lebaran.

Pertemuan ini dihadiri oleh berbagai kalangan, mulai dari tokoh senior seperti Bursah Zarnubi, praktisi hukum, wartawan senior, hingga aktivis muda. Kehadiran tokoh-tokoh dari berbagai latar belakang seperti dr. Paulus Januar (PMKRI), aktivis perempuan, hingga mantan atlet bulu tangkis era 70-an, Herman, menunjukkan bahwa gerakan demokrasi di Indonesia tetap solid dan egaliter.

Bagi masyarakat, konsistensi INDEMO selama 26 tahun dalam mengawal demokrasi menjadi “kompas moral” yang penting. Hariman Siregar dinilai mampu menjadi solidarity maker yang menyatukan berbagai faksi tanpa menciptakan relasi feodal.

Bursah Zarnubi bahkan secara terbuka mengundang rekan-rekannya untuk tetap menyambung silaturahmi selama bulan puasa.

“Kalau mau buka puasa bersama sekaligus merayakan Lebaran di rumahku, ayo… Tapi di Lahat… Jauh nian… Kalau temen-temen oke, bisa kita agendakan,” ajaknya yang kembali mencairkan suasana.

Aksi para aktivis yang memilih “cooling down” menjelang bulan suci ini memberikan pesan positif kepada publik. Di saat tensi politik seringkali memanas, edukasi melalui tindakan nyata mengenai pentingnya silaturahmi dapat meredam polarisasi di tingkat akar rumput.

Dengan mengedepankan dialog yang santai dan penuh kegembiraan, INDEMO menunjukkan bahwa demokrasi yang sehat bukan hanya soal perebutan kekuasaan, melainkan tentang bagaimana menjaga kemanusiaan dan kebersamaan dalam bingkai keberagaman.(*)

Related Articles

- Advertisement -

Terbaru