Rabu, Februari 25, 2026

Buy now

spot_img

Raih Adipura Menuju Kota Bersih, Perjuangan Magetan Melawan Darurat Sampah

MAGETAN (BLOKJATIM.COM) – Ketika sebagian besar warga Magetan masih terlelap dalam mimpi, deru mesin truk sampah dan gesekan sapu lidi di aspal sudah memecah hening. Mereka adalah Yellow Force, pasukan kuning yang menjadi garda depan dalam menjaga wajah kota agar tetap ayu saat matahari terbit.

Kerja sunyi mereka kini membuahkan pengakuan nasional. Di tengah kepungan status Darurat Sampah karena TPA Milangasri yang sudah luber, Kabupaten Magetan justru berhasil menyabet penghargaan Adipura kategori Kota Bersertifikat (Menuju Kota Bersih) dari Kementerian Lingkungan Hidup/BPLH RI, Rabu (25/2/2026).

Tahun ini, panggung Adipura terasa lebih dingin bagi banyak daerah. Dari 345 kabupaten/kota yang dievaluasi, tak satu pun meraih predikat Adipura Kencana. Bahkan, 253 daerah harus rela dicap sebagai “Kota Kotor”. Namun, Magetan menyeruak di antara 35 daerah terpilih yang dianggap mampu memenuhi indikator nasional.

Prestasi ini unik, bahkan mungkin paradoks. Magetan menang saat TPA Milangasri telah penuh sesak dan rencana pembangunan TPA baru di Desa Botok masih dalam proses birokrasi. Namun, juri melihat hal lain, sistem operasional yang tetap berdenyut meski jantungnya (TPA) sedang sesak.

“Adipura kategori Menuju Kota Bersih ini kita raih di tengah kondisi darurat sampah. Ini bukti kerja keras seluruh jajaran dan dukungan masyarakat,” ujar Bupati Magetan, Bunda Nanik Sumantri, dengan nada haru.

Kemenangan ini bukan milik pejabat di balik meja semata. Ia adalah milik para petugas yang terbiasa bekerja di bawah rembulan. Berkat dedikasi mereka, sistem controlled landfill (pengurugan berkala) dan pengendalian TPS liar tetap berjalan sesuai standar teknis.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Pangan, Saif Muchlissun, menyebut ini sebagai “Pengakuan atas kerja nyata”.

“Yellow Force, KSM, bank sampah dan relawan lingkungan bekerja tanpa kenal waktu. Evaluasi ini menjadi arah perbaikan, terutama pembentukan UPTD dan penguatan pembiayaan,” tegasnya.

Memang, jalan menuju “Sangat Bersih” masih terjal. Magetan masih memiliki nilai merah pada aspek kelembagaan (UPTD) dan alokasi anggaran yang belum menyentuh angka ideal 3% dari APBD. Namun, semangat kolaborasi menutupi celah-celah kekurangan tersebut.

Bagi Bunda Nanik, Adipura bukan sekadar piala pajangan. Ia menjadikannya momentum untuk meluncurkan Gerakan Pilah Sampah dari Rumah. Harapannya sederhana namun vital, jika sampah selesai di tingkat dapur, beban TPA akan berkurang drastis.

“Capaian penghargaan ini kami persembahkan untuk warga Magetan semua,” pesan Bupati wanita pertama di Magetan tersebut.

Magetan kini sedang membuktikan sebuah filosofi lama, bahwa bersih bukan hanya soal tempat pembuangan yang luas, tapi soal bagaimana setiap tangan, dari ibu rumah tangga hingga petugas kebersihan peduli pada setiap jengkal tanah yang mereka injak.

Di tengah keterbatasan, Magetan memilih untuk tidak menyerah pada tumpukan sampah. Mereka memilih untuk terus berbenah, melangkah pasti menuju kota yang benar-benar resik dan asri.(*)

Related Articles

- Advertisement -

Terbaru