Senin, Maret 30, 2026

Buy now

spot_img

Sisi Lain Agus Lawu: Di Antara Riuh Kontroversi dan Magnet Ekonomi Media

MAGETAN (BLOKJATIM.COM) – Dalam jagat media sosial dan ruang-ruang kopi di Magetan, nama Agus Suyanto atau yang lebih karib disapa Agus Lawu bukanlah nama yang asing. Ia adalah personifikasi dari sebuah paradoks, sosok yang sering memicu kerutan dahi karena sikap nyelenehnya, namun di saat yang sama, kehadirannya selalu dinanti bak magnet yang sulit ditolak.

Jurnalis yang dikenal hobi melibas aspal dengan motor touring-nya ini memang berdiri di atas garis tipis antara simpati dan antipati. Namun, ada satu fakta yang sulit dibantah oleh para pengeritiknya sekalipun: di mana ada Agus Lawu, di situ ada peluang ekonomi yang mengalir bagi rekan-rekan media.

Setiap agenda yang digagas Agus, terutama yang bersentuhan dengan sektor ekonomi kreatif dan kemitraan, hampir selalu dipadati massa. Fenomena ini unik. Seolah-olah, segala kontroversi atau “rasan-rasan” miring tentang dirinya menguap begitu saja saat ia menyodorkan ide yang konkret dan menghasilkan.

Banyak jurnalis di Magetan yang berseloroh menjulukinya sebagai “Tukang Suwuk”. Sebutan ini bukan karena ia piawai dalam hal mistis, melainkan karena kemampuannya yang “ajaib” dalam melakukan marketing dan melobi narasumber hingga mampu membuka keran rezeki, tidak hanya untuk dirinya, tapi juga untuk lingkaran pertemanannya.

Sebagai Ketua PWMOI Magetan yang kini tengah bersiap menempuh jenjang Wartawan Utama dalam Uji Kompetensi Wartawan (UKW), Agus menunjukkan bahwa ia tidak sekadar bermain di level permukaan. Langkah ini seolah menjadi jawaban elegan bagi mereka yang pernah memandangnya sebelah mata.

Saat ditemui di sela kesibukannya, Agus Lawu menanggapi segala dinamika tentang dirinya dengan nada santai namun filosofis.

“Dalam dunia pergerakan, dicibir itu menu harian. Saya tidak ambil pusing dengan orang yang menelan ludah sendiri setelah melihat hasil kerja saya,” ujar Agus dengan gaya bicaranya yang lugas.

“Bagi saya, indikator keberhasilan itu sederhana: apakah kehadiran kita bisa mengisi piring orang lain atau tidak? Kalau ide saya bisa membuat teman-teman media punya penghasilan lebih dan dapur mereka tetap ngebul, maka biarkan saja kontroversi itu menjadi bumbu. Saya lebih memilih fokus membuka jalan daripada sibuk membalas nyanyian di belakang.”

Perjalanan Agus memang tidak pernah mulus. Ia sering dianggap “berbeda arus” atau memiliki ritme yang tidak seirama dengan lingkungan sekitarnya. Namun, bagi Agus, perbedaan itu justru adalah bahan bakar. Ia tidak gentar menghadapi cibiran karena ia yakin bahwa jalan terjal yang ia pilih bermuara pada kemaslahatan orang banyak.

Kisah Agus Lawu sebenarnya adalah cermin sosial bagi kita semua. Ia menunjukkan bagaimana masyarakat cenderung pragmatis; sisi negatif seseorang bisa dengan cepat tereduksi ketika manfaat nyata mulai dirasakan.

Agus Lawu adalah bukti hidup bahwa kontroversi dan kontribusi bisa berjalan beriringan. Ia tidak butuh pengakuan dari semua orang, ia hanya butuh ruang untuk terus membuktikan bahwa menjadi berbeda adalah sebuah kekuatan untuk tetap relevan di tengah masyarakat yang dinamis.(*)

Related Articles

- Advertisement -

Terbaru