Minggu, Maret 15, 2026

Buy now

spot_img

Lawan Bullying, Kemenag Magetan Gulirkan “Kurikulum Cinta”, Gunakan Bahasa Jawa sebagai Fondasi Etika

MAGETAN (BLOKJATIM.COM) – Menanggapi maraknya isu perundungan (bullying) dan kekerasan di lingkungan pendidikan, Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Magetan resmi menggulirkan program inovatif bertajuk “Kurikulum Berbasis Cinta”.

Program ini dirancang untuk menciptakan lingkungan sekolah yang kondusif melalui pendekatan kasih sayang dan kearifan lokal.

Kepala Kemenag Magetan, Dr. H. Taufiqurrohman, M.Ag, menjelaskan bahwa kurikulum ini merupakan respons terhadap dinamika era saat ini. Fokus utamanya adalah membekali tenaga pendidik agar mampu menyampaikan materi pembelajaran dengan landasan cinta dan ketulusan.

Salah satu poin unik dalam implementasi kurikulum ini adalah penggunaan Bahasa Jawa sebagai media komunikasi antara siswa dan guru. Menurut Taufiqurrohman, penggunaan Bahasa Jawa khususnya tingkatan halus (Krama Halus) memiliki filosofi mendalam dalam menjaga etika.

“Dengan menggunakan Bahasa Jawa halus, orang cenderung sulit untuk bertengkar. Ini adalah upaya kita menggunakan bahasa sebagai instrumen etika untuk saling menyayangi dan menjaga perasaan sesama,” ujar Taufiqurrohman.

Meskipun Bahasa Indonesia tetap menjadi bahasa pengantar utama, penyisipan Bahasa Jawa dalam interaksi harian diharapkan mampu menanamkan rasa hormat dan kesantunan yang lebih kuat di dalam diri peserta didik.

Program ini tidak hanya berhenti pada teori, namun langsung diintegrasikan ke dalam jadwal pembelajaran. Beberapa sekolah di Magetan telah ditunjuk sebagai pilot project (proyek percontohan), di antaranya di MIN 2 Magetan, MIN 4 Magetan, MIN Kuwon. MTsN 1 Magetan, MTsN 5 Magetan dan MAN 3 Magetan.

Dalam praktiknya, siswa diawali dengan pembiasaan positif seperti berdoa bersama dan bersalaman dengan guru sebelum masuk kelas. Guru juga didorong untuk lebih peka terhadap bakat dan minat siswa melalui penguatan emosional.

“Tujuannya adalah agar anak-anak mencintai diri sendiri, lingkungan, hingga orang-orang di luar lingkaran mereka. Kita ingin mengantarkan mereka menjadi pribadi yang toleran dan menghormati sesama, sehingga tercipta kedamaian di mana pun mereka berada,” imbuhnya.

Dengan adanya Kurikulum Cinta ini, Kemenag Magetan berharap madrasah dapat menjadi pelopor lingkungan pendidikan yang bebas dari kekerasan dan penuh dengan kerukunan.(ton/red)

Related Articles

- Advertisement -

Terbaru