Rabu, Januari 28, 2026

Buy now

spot_img

Sinergi URC DLHP Magetan, Polsek, dan Koramil Bersihkan Sampah Liar di Jembatan Blawean Desa Turi

MAGETAN (BLOKJATIM.COM) – Merespon keluhan warga terkait tumpukan sampah yang menggunung dan berbau menyengat, Unit Reaksi Cepat (URC) Dinas Lingkungan Hidup dan Pangan (DLHP) Kabupaten Magetan bergerak cepat. Pada Selasa (23/12/2025), tim URC bersama Polsek Panekan dan Koramil Panekan melakukan aksi pembersihan massal di kawasan Jembatan Blawean, Desa Turi, Kecamatan Panekan.

Jembatan yang menjadi jalur penghubung penting antara Kabupaten Magetan dan Ngawi tersebut sebelumnya viral karena dipenuhi sampah rumah tangga yang merusak pemandangan dan ekosistem sungai.

Kepala Desa Turi, Suhepi, yang turun langsung ke lokasi, mengungkapkan bahwa pelaku pembuangan sampah liar di wilayahnya mayoritas bukan merupakan warga setempat. Bahkan, saat pembersihan berlangsung, petugas sempat memergoki warga dari desa tetangga yang hendak membuang sampah.

“Alhamdulillah, ke depannya akan kita buatkan banner larangan dengan sanksi yang jelas.Yang membuang sampah di sini rata-rata bukan orang Desa Turi, melainkan dari desa sebelah. Tadi juga ada yang ketangkap basah,” ujar Suhepi.

Ia menambahkan bahwa oknum pembuang sampah sering memanfaatkan waktu malam hari untuk menghindari pantauan warga. Sebagai solusi jangka panjang, Pemerintah Desa Turi telah merencanakan pembangunan dua unit TPS 3R (Tempat Pengolahan Sampah Reuse, Reduce, Recycle).

“Insya Allah di tahun 2026 bisa terealisasi beserta tungku pembakarannya,” tambahnya.

Kapolsek Panekan, AKP Haryono, S.H., memberikan apresiasi tinggi atas kecepatan tim URC DLHP dalam menangani masalah ini. Ia berharap aksi bersih-bersih ini menjadi momentum bagi masyarakat untuk sadar akan pentingnya menjaga kebersihan.

Sementara itu, Kepala Bidang (Kabid) Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 DLHP Magetan, Eny Purwanti, menekankan bahwa kehadiran URC adalah bentuk sinergi antara pemerintah kabupaten dan desa. Namun, ia mengingatkan desa untuk segera membentuk Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) agar pengelolaan sampah lebih terstruktur.

“Seharusnya yang melakukan koordinasi itu KSM, tapi banyak desa yang belum memiliki. Jika sudah ada KSM, desa tinggal mengirimkan SK-nya ke DLH. Kami akan mendampingi dalam pengelolaan sampah,” jelas Eny.

Eny menjelaskan bahwa peran DLH ke depan adalah membantu pengangkutan sampah residu, yakni sampah yang sulit diolah seperti popok bayi (pampers).

“Bukan sampah ‘glundungan’ (semuanya), tapi residunya yang akan kami ambil melalui kontainer kami,” tuturnya.

Kondisi Jembatan Blawean yang sempat memprihatinkan kini mulai berangsur bersih. Sinergi antara ketegasan pemerintah dan kesadaran masyarakat diharapkan mampu menjaga sungai tetap bersih sebagai urat nadi kehidupan, serta menjaga citra wilayah perbatasan Magetan-Ngawi tetap asri.(dgn/red)

Related Articles

- Advertisement -

Terbaru