MAGETAN (BLOKJATIM.COM) – Di tengah gemerlap tren gaya hidup tahun 2026, berhutang telah bertransformasi dari sekadar “pilihan darurat” menjadi “gaya hidup instan”. Namun, di balik kemudahan akses pinjaman digital dan kartu kredit, terselip sebuah fenomena sosial yang kian meresahkan yakni “budaya sengaja lupa”.
Pernahkah Anda merasa rezeki seolah “mampet” meskipun sudah bekerja keras? Atau uang yang masuk selalu lewat begitu saja tanpa bekas? Sebelum menyalahkan keadaan, cobalah tengok daftar pesan di ponsel Anda. Jangan-jangan, ada hak orang lain yang masih Anda genggam erat dengan dalih “belum ada uang”, padahal di media sosial Anda masih pamer kopi kekinian.
Utang: Antara Amanah dan “Kezaliman yang Halus”
Dalam kacamata spiritual, khususnya Islam, hutang bukan sekadar urusan angka di atas kertas. Ia adalah ikatan ruh. Rasulullah SAW bahkan secara spesifik memohon perlindungan dari lilitan hutang karena dampaknya yang merusak: membuat siang gelisah dan malam penuh ketakutan.
Banyak yang tidak menyadari bahwa menunda pembayaran hutang saat mampu adalah bentuk kezaliman. Secara psikologis, orang yang hobi berhutang tapi enggan melunasi sedang membangun mentalitas “pencuri”. Rasulullah SAW memperingatkan dengan keras bahwa siapa pun yang berhutang dengan niat tidak mengembalikan, maka Allah akan menghancurkan hidupnya.
Mengapa Hutang Menghambat Rezeki?
Logikanya sederhana. Rezeki datang bersama keberkahan. Ketika kita menahan hak orang lain, kita sedang menutup keran keberkahan tersebut. Para ulama merangkum beberapa perilaku yang membuat hutang menjadi penghalang nasib baik:
Niat yang Busuk: Sejak awal meminjam, sudah ada niat untuk tidak membayar.
Menunda Tanpa Alasan: Memiliki uang, tapi lebih memilih mendahului keinginan (konsumtif) daripada kewajiban (hutang).
Gaya Hidup di Atas Kemampuan: Menggunakan hutang untuk hal yang tidak produktif hanya demi pengakuan sosial.
“Jiwa seorang mukmin itu tergantung oleh utangnya sampai utangnya itu dilunasi.” (HR. Ahmad). Bayangkan, bahkan di titik akhir kehidupan pun, urusan yang satu ini mampu menyandera ruh kita.
Membuka Kembali Keran Rezeki yang Tersumbat.
Memasuki tahun 2026, kesadaran finansial seharusnya tidak hanya soal investasi saham atau kripto, tapi juga “investasi kejujuran”. Jika Anda saat ini merasa terjepit dalam lilitan hutang, berikut adalah langkah konkret untuk memulihkan alur rezeki Anda:
Niatkan Melunasi, Bukan Menghindar: Niat adalah energi. Saat Anda jujur ingin melunasi, semesta seringkali mengirimkan jalan dari arah yang tak disangka-sangka.
Audit Gaya Hidup: Hentikan konsumsi yang tidak perlu. Tidak ada gunanya terlihat kaya dengan uang orang lain.
Gunakan Jalur Produktif: Jika harus meminjam, pastikan itu untuk modal usaha yang memutar uang, bukan untuk membeli barang yang nilainya menyusut.
Ketuk Pintu Langit: Perbanyak istighfar dan sedekah. Terdengar kontradiktif? Tidak. Sedekah adalah sinyal bahwa Anda percaya pada kelimpahan rezeki Tuhan, sedangkan istighfar membersihkan “sumbatan” dosa yang menghalangi datangnya peluang.(*)

