Rabu, Januari 28, 2026

Buy now

spot_img

Menjemput Asa 2026, Jejak Magis Reog Sardulo Manggolo di Bumi Yosonegoro

MAGETAN (BLOKJATIM.COM) – Minggu siang (4/1/2026), udara di sekitar makam Eyang Yosonegoro terasa berbeda. Wangi dupa dan gumam doa yang khusyuk memecah keheningan pusara Bupati pertama Magetan tersebut. Di sana, para seniman dari Paguyuban Seni Reog Ponorogo Sardulo Manggolo Tambran Gagrak Magetan berkumpul, bukan sekadar untuk tampil, melainkan untuk “mengetuk pintu” sejarah sebelum melangkah ke tahun yang baru.

Bagi mereka, mengawali tahun 2026 bukan tentang pesta kembang api, melainkan tentang menoleh sejenak ke belakang demi melompat lebih jauh ke depan.

Kegiatan yang dikemas dalam kirab budaya ini mengusung napas spiritual yang kental. Pimpinan Paguyuban, Agus Andri Setiawan, menjelaskan bahwa pemilihan makam leluhur sebagai titik awal bukanlah tanpa alasan. Ada sebuah pesan mendalam yang ingin disampaikan melalui tema yang mereka usung.

“Menyambut tahun baru 2026 dengan harapan dan tema penuh makna yang mendalam tentang kehidupan ‘Biyen Kinarya, Saiki Kinarja, Sesok Kinarsa’. Diawali dari makam R.T Yosonegoro (Bupati Magetan pertama) dengan doa bersama untuk para leluhur di Kabupaten Magetan,” ujar Agus Andri Setiawan.

Agus menguraikan bahwa setiap kata dalam tema tersebut adalah jembatan waktu yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan Magetan.

“Biyen Kinarya mengandung makna bahwa Magetan hari ini berdiri di atas karya dan perjuangan para leluhur. Sejarah harus menjadi pijakan, bukan dilupakan. Saiki Kinarja berarti generasi sekarang memiliki tanggung jawab untuk bekerja, berkarya, dan menjaga warisan budaya. Sedangkan Sesok Kinarsa adalah harapan agar di masa depan Magetan tetap lestari budayanya dan masyarakatnya merasakan manfaat dari apa yang kita lakukan hari ini,” jelasnya.

Usai doa dipanjatkan, suasana hening berubah menjadi riuh yang menyuntikkan semangat. Suara kendang yang bertalu-talu dan lengkingan terompet reog mulai memecah jalanan. Kirab budaya bergerak gagah menyusuri Jalan Seno, Jalan Pahlawan, Jalan Pandu, hingga berakhir di Jalan Melati.

Masyarakat yang memadati pinggir jalan seolah terhipnotis oleh atraksi magis dadak merak yang menari-nari di udara. Kehadiran pembarong putri, Intan dan Ririn, menjadi daya tarik tersendiri yang membuktikan bahwa budaya tradisional tetap relevan dan inklusif bagi siapa saja.

Lebih dari sekadar tontonan, kirab ini menjadi ruang edukasi terbuka. Di sepanjang rute kirab, anak-anak muda Magetan disuguhi pemandangan tentang bagaimana sebuah identitas dijaga. Paguyuban Sardulo Manggolo berhasil mengubah perayaan tahun baru menjadi momen refleksi kolektif.

Hingga matahari mulai condong ke barat dan acara berakhir dengan tertib, pesan dari Jalan Melati itu tetap bergema, bahwa untuk melangkah ke masa depan yang cerah (Sesok Kinarsa), kita tidak boleh melepaskan pegangan dari akar sejarah yang telah ditanamkan para pendahulu (Biyen Kinarya).(*)

Related Articles

- Advertisement -

Terbaru