MAGETAN (BLOKJATIM.COM) – Bagi masyarakat Magetan, hari libur bukan sekadar waktu untuk beristirahat, melainkan momen untuk kembali merengkuh memori masa lalu melalui kehangatan sepiring nasi pecel atau semangkuk jenang.
Di sisi jalan strategis Magetan-Sarangan, tepatnya di Lapangan Desa Candirejo, sebuah pasar tradisional bernama Sar Londo tetap menggeliat dan membuktikan bahwa dirinya masih menjadi idola yang tak lekang oleh zaman.
Nama “Sar Londo” bukanlah sekadar label tanpa makna. Menilik sejarahnya, pasar ini sudah eksis sejak zaman kolonial Belanda. Konon, dahulu pasar ini hanya buka setiap Jumat Pon dan menjadi tempat berkumpulnya orang-orang Belanda untuk mencari penganan lezat. Karena mayoritas pengunjungnya adalah warga asing kala itu, masyarakat setempat menjulukinya Pasar Londo atau Sar Londo.
Kini, meski zaman telah berganti, ruh masa lalu itu tetap dipertahankan. Bukan lagi untuk melayani kompeni, melainkan sebagai oase bagi siapa saja yang rindu akan suasana Jawa tempo dulu.
Memasuki area Sar Londo, pengunjung langsung disambut dengan pemandangan yang memanjakan mata. Sekitar 13 stan berdiri rapi dengan para penjual yang mayoritas adalah ibu-ibu desa setempat yang tampil anggun mengenakan pakaian khas Jawa, batik, lurik.
Tak hanya suasananya yang autentik, harganya pun seolah “melawan” inflasi. Dengan uang Rp 5.000, pengunjung sudah bisa menikmati beragam menu legendaris, seperti, Nasi Pecel, Nasi Menok, Tepo yang gurih. Jenang hangat yang lembut di lidah. Cenil dan Lopis yang kenyal nan manis. Sop Manten, Nasi Liwet, hingga Gudeg dan berbagai jenis makanan tradisional lainya.
“Semua makanan mulai dari lima ribu rupiah. Kalau mau tambah lauk, tinggal sesuaikan saja. Sangat terjangkau untuk sarapan keluarga,” ujar salah satu pengunjung yang tampak antusias.
Sar Londo ini hadir setiap Sabtu dan Minggu, menjadikannya destinasi favorit bagi wisatawan yang kebetulan melintas di jalur menuju Telaga Sarangan atau mereka yang baru saja berburu oleh-oleh di Jalan Sawo.
Untuk menambah kemeriahan, setiap hari Minggu, pengunjung ditemani oleh alunan musik elekton. Tak jarang, para pemburu kuliner ini ikut naik ke panggung menyumbangkan lagu, menciptakan suasana kekeluargaan yang cair di tengah sejuknya udara Magetan.
Adanya Sar Londo ini tentunya disambut dengan sukacita bagi warga Magetan dan sekitarnya, pasar ini bukan hanya tempat transaksi jual-beli, melainkan ruang rindu untuk mencicipi kembali resep-resep warisan leluhur yang tetap eksis meski zaman terus menderu.(*)

