Kamis, Januari 29, 2026

Buy now

spot_img

Canggih! Plasma Technology Ozon di DTPHP Magetan Bisa Simpan Sayuran dan Cabai hingga 3 Bulan

MAGETAN (BLOKJATIM.COM) – Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (TPHP) Kabupaten Magetan resmi memperkenalkan inovasi ruang pasca panen berbasis Generator Plasma Technology Ozon pada Selasa (13/1/2026). Teknologi ini dihadirkan sebagai solusi konkret untuk menjaga stabilitas harga komoditas hortikultura yang kerap berfluktuasi tajam.

Bertempat di kantor Dinas TPHP, pengenalan alat ini ditinjau langsung oleh Bupati Magetan, Bunda Nanik Sumantri, didampingi Kepala Dinas TPHP, Ir. Uswatul Chasanah, MMA.

Bupati Magetan, Bunda Nanik Sumantri, memberikan apresiasi tinggi terhadap keberadaan fasilitas ini. Menurutnya, teknologi ozon dan cold storage sangat membantu kelompok tani, terutama saat menghadapi harga pasar yang tidak menentu.

“Ini sangat membantu sekali untuk kelompok petani. Terutama kalau harga cabai atau sayuran lagi jatuh, bisa dimasukkan ke ozon ini, disimpan di cold storage. Nanti bisa bertahan sampai 3 bulan,” ujar Bunda Nanik di sela peninjauan.

Bunda menambahkan bahwa petani tidak perlu lagi terburu-buru menjual hasil panen dengan harga murah jika pasar sedang lesu. “Jadi saat harga jatuh, kita simpan dulu. Nanti kalau harga sudah membaik, baru dikeluarkan. Ini supaya harga di tingkat petani tidak anjlok,” imbuhnya.

Kepala Dinas TPHP Magetan, Ir. Uswatul Chasanah, MMA, menjelaskan bahwa penggunaan teknologi plasma ozon ini masih dalam tahap awal pengenalan. Fokus utamanya adalah komoditas sayuran seperti cabai yang memiliki pengaruh besar terhadap angka inflasi.

“Sayur itu fluktuasinya besar, terutama cabai yang berpengaruh pada inflasi. Dengan ozon ini, umur simpan menjadi lebih panjang sehingga stok bisa dikeluarkan saat harga sudah bagus,” jelas Uswatul.

Mengenai teknis penyimpanan, Uswatul memaparkan beberapa poin penting yakni unit awal ini memiliki kapasitas cold storage sebesar 1,5 ton.Untuk komoditas cabai, masa simpan bisa diperpanjang hingga 3 bulan, sementara sayuran lain menyesuaikan karakteristiknya. Prioritas pengembangan diarahkan untuk daerah dataran tinggi (daerah atas) yang menjadi sentra hortikultura.

Untuk tahap awal, Dinas TPHP akan menggencarkan sosialisasi kepada kelompok tani agar mereka memahami manfaat teknologi ini. Petani yang membutuhkan layanan penyimpanan ini dipersilakan untuk berkoordinasi dengan pihak dinas.

“Ini masih tahap awal pengenalan, baru satu unit. Ke depan kita lihat perkembangannya, yang jelas ini sangat dibutuhkan karena produk hortikultura volumenya banyak dan gampang rusak. Harapan kami, teknologi ini bisa memperpanjang usia simpan secara signifikan,” tutup Uswatul.(*)

Related Articles

- Advertisement -

Terbaru