MAGETAN (BLOKJATIM.COM) – Di sebuah sudut ruang kerja yang tenang, S. Agus Triyono, S.Pd, M.Si, M.H, menarik napas panjang. Matanya berbinar saat menceritakan sebuah misi yang telah ia genggam erat sejak menjabat sebagai Kepala SMK PGRI 1 Magetan pada 2017 silam. Bagi Agus, pendidikan bukan sekadar transfer ilmu, melainkan tentang memuliakan martabat manusia, terutama mereka yang kehilangan sandaran hidup.
“Saya ingin membantu anak-anak yatim piatu mumpung saya bisa. Ini soal istiqomah,” ujarnya dengan nada mantap.
Perjalanan menjalankan program sekolah gratis bagi siswa yatim piatu di SMK PGRI 1 Magetan tidaklah semulus yang dibayangkan. Di awal langkahnya, Agus sempat menghadapi riak-riak kecil di internal sekolah. Beberapa tenaga pendidik sempat merasa khawatir jika kebijakan membebaskan biaya bagi puluhan siswa akan berdampak pada hak-hak atau honorarium guru.
Namun, Agus tetap bergeming pada prinsipnya. Ia memberikan pemahaman bahwa rezeki sekolah tidak akan berkurang dengan berbagi.
“Alhamdulillah, sekarang guru-guru sudah mendukung semua. Tahun ini saja, kami sudah menerima sekitar 50 anak yatim piatu. Mereka sekolah tanpa bayar sepeser pun,” tuturnya.
Pertanyaan besar yang sering muncul dari para orang tua adalah bagaimana sekolah bisa bertahan secara operasional jika banyak siswa yang dibebaskan dari biaya? Dengan senyum tenang, Agus menjelaskan strategi manajerialnya yang transparan.
Ia menegaskan bahwa dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dan Bantuan Operasional Pendidikan (BOP) adalah amanah yang harus dikembalikan sepenuhnya untuk kepentingan siswa.
“Dana untuk siswa itu ya BOS sama BOP. Itu untuk operasional sekolah dan utamanya untuk siswa, bukan untuk (menambah) guru-guru. Itu sudah cukup, harus bisa dicukup-cukupkan,” tegasnya.
Kebijakan ini mencakup hampir seluruh aspek kebutuhan sekolah, termasuk seragam. Bagi Agus, tidak boleh ada anak yang merasa minder karena tidak mampu membeli seragam. Sekolah menanggung semuanya agar mereka bisa fokus belajar dan mengejar mimpi.
Meski memberikan fasilitas serba gratis, Agus memberikan satu syarat mutlak bagi para siswa yatim piatu yang bergabung: kedisiplinan. Baginya, kemiskinan atau status yatim piatu bukan alasan untuk berleha-leha. Justru, sekolah ini diposisikan sebagai kawah candradimuka untuk membentuk karakter yang tangguh.
“Saya terima, tidak usah mikir biaya. Tapi syaratnya satu: harus tertib dan disiplin sekolahnya,” tambahnya.
Misi Agus tidak berhenti sampai di meja kelulusan. Ia berkomitmen bahwa setelah anak-anak ini menyelesaikan pendidikannya, sekolah akan berupaya maksimal mencarikan lapangan pekerjaan bagi mereka. Ia ingin memastikan rantai kemiskinan terputus melalui kemandirian ekonomi.
Di akhir perbincangan, Agus menitipkan pesan menyentuh bagi seluruh warga Magetan dan sekitarnya. Ia meminta siapa pun yang mengetahui ada anak yatim piatu atau anak kurang mampu yang terancam putus sekolah untuk segera membawanya ke SMK PGRI 1 Magetan.
“Kalau ada tetangga, keluarga, atau siapa saja yang tidak bisa sekolah karena tidak mampu, masukkan ke sini. Insyaallah, kami siap menjaga masa depan mereka,” pungkasnya dengan penuh keyakinan.
Di SMK PGRI 1 Magetan, pendidikan bukan lagi soal angka di atas kertas, melainkan tentang bagaimana sebuah institusi bisa menjadi “orang tua” yang merangkul mereka yang sempat kehilangan arah.(ton/red).

