Selasa, April 21, 2026

Buy now

spot_img

SMK Swasta di Magetan Mulai Berguguran, Tahun Ini Dua Sekolah Tutup Total

MAGETAN (BLOKJATIM.COM) – Dunia pendidikan menengah kejuruan di Kabupaten Magetan tengah berada dalam kondisi tidak sehat. Ketimpangan jumlah siswa yang sangat kontras antara sekolah negeri dan swasta kini berujung pada penutupan permanen sejumlah institusi. Fenomena ini memicu kekhawatiran akan terjadinya “kepunahan” SMK swasta di wilayah tersebut.

Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMK Swasta Magetan, S. Agus Triyono, S.Pd, M.Si, M.H, mengungkapkan bahwa kompetisi antara sekolah negeri dan swasta saat ini sudah tidak lagi seimbang. Menurutnya, sekolah negeri yang secara alamiah menjadi magnet bagi calon siswa, kini justru bergerak semakin agresif hingga ke tingkat akar rumput.

Agus menyoroti langkah sekolah negeri yang mulai turun langsung melakukan promosi ke SMP dan MTs. Hal ini dinilai mempersempit ruang gerak sekolah swasta yang selama ini harus berjuang keras mencari siswa demi keberlangsungan operasional.

“Perbandingannya luar biasa (jomplang). Katakan saja sekolah negeri itu tanpa promosi pasti murid datang. Apalagi sekarang negeri malah turun ke SMP/MTs promosi-promosi, kan kasihan sekolah swasta,” ujar Agus Triyono saat ditemui di Magetan.

Dampak dari ketimpangan ini bukan sekadar isu di atas kertas. Agus mengonfirmasi bahwa pada Juli 2026 mendatang, setidaknya ada dua sekolah swasta yang dipastikan berhenti beroperasi total karena tidak mendapatkan siswa baru.

Daftar sekolah yang tutup tahun ini antara lain, SMK PGRI Kawedanan dan SMK Sendang Kamal Maospati.

Dengan tutupnya dua sekolah tersebut, jumlah SMK swasta di Magetan yang semula 24 lembaga, kini hanya akan tersisa 22 sekolah. Agus memprediksi angka ini akan terus menyusut jika manajemen sekolah swasta tidak segera berbenah atau jika tidak ada intervensi kebijakan dari pemerintah.

Persoalan ini tidak berhenti pada penutupan gedung sekolah. Masalah kemanusiaan muncul terkait nasib para tenaga pendidik (guru) yang kehilangan mata pencaharian. Agus menyayangkan sikap Cabang Dinas (Cabdin) Pendidikan yang dianggap kurang memberikan solusi konkret bagi para guru yang terdampak.

“Cabdin juga tidak bertanggung jawab. Guru yang mengajar itu harus ke mana kalau sekolahnya tutup? Padahal teman-teman itu juga butuh untuk menghidupi keluarga,” tegasnya.

Menyikapi hal tersebut, MKKS SMK Swasta Magetan tengah mengupayakan langkah mandiri. Agus berencana melakukan “distribusi” guru ke sekolah-sekolah swasta lain yang masih memiliki jam mengajar kosong sebagai bentuk solidaritas.

Agus memberikan peringatan keras kepada rekan-rekan pengelola lembaga pendidikan swasta di Magetan. Tanpa manajemen yang cerdas dan rasa kebersamaan antar lembaga, ia meyakini sekolah swasta satu per satu akan menyusul masuk ke “liang lahat” pendidikan.

“Saya yakin kalau swasta itu tidak pintar-pintar memanajemen sekolahan dan tidak ada kebersamaan, saya yakin semakin tahun akan semakin berkurang, akhirnya akan tutup juga habis,” pungkasnya menutup wawancara.(ton/red)

Related Articles

- Advertisement -

Terbaru