Senin, Mei 11, 2026

Buy now

spot_img

Mengoyak Kesunyian di Pati: Membaca Nestapa Santriwati dalam Narasi Apriliana Soekir

PATI (BLOKJATIM.COM) – Di rak buku, ia hanyalah sebuah novel setebal 334 halaman berjudul Gadis Berkabung Senyap. Namun, bagi puluhan santriwati di Kabupaten Pati, narasi dalam buku karya Apriliana Soekir itu bukan sekadar fiksi. Ia adalah cermin retak dari trauma, manipulasi spiritual, dan kesunyian yang selama bertahun-tahun membungkam jerit mereka di balik tembok pesantren.

Kasus yang menyeret Ashari (50), pendiri sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Ndholo Kusumo di Desa Tlogosari, Tlogowungu, Pati, menjadi bukti nyata betapa “senyap” yang digambarkan dalam novel tersebut adalah senjata paling mematikan. Ashari, yang sempat buron sebelum akhirnya diringkus polisi di Wonogiri pada Kamis (7/5/2026), diduga telah mencabuli sedikitnya 50 santriwati sejak tahun 2024.

Meta dan Luka yang Tak Kunjung Kering

Dalam novelnya, Apriliana Soekir menghadirkan tokoh Meta—seorang gadis yang kehilangan arah hidup dan terjebak dalam pusaran trauma. Novel ini mengungkap bagaimana predator menggunakan topeng spiritualitas untuk menjerat korbannya, sebuah praktik yang disebut sebagai “bimbingan menuju kenikmatan surgawi” namun berakhir pada eksploitasi.

Relasi kuasa inilah yang menjadi benang merah antara fiksi dan realita di Pati. Di Ndholo Kusumo, para korban—yang mayoritas masih duduk di bangku SMP dan berasal dari keluarga tidak mampu—dipaksa tunduk melalui manipulasi psikologis. Sebagaimana Meta dalam novel yang mengalami ketimpangan sosial dan spiritual, para santriwati di Pati pun menghadapi tembok besar: doktrin ketaatan yang disalahgunakan.

Fakta Pahit: Dari Hamil Hingga Upaya Suap

Realitas di lapangan jauh lebih mengerikan dari lembaran kertas. Kuasa hukum korban, Ali Yusron, membeberkan fakta memilukan tentang seorang santriwati yang dicabuli hingga hamil. Untuk menutupi jejak, tersangka Ashari diduga menikahkan korban secara paksa dengan santri dewasa, sebuah tindakan yang menghancurkan masa depan korban berkali-kali lipat.

Tak hanya itu, aroma “senyap” dalam kasus ini juga coba dibeli dengan uang. Pihak tersangka dikabarkan sempat menawarkan suap kepada keluarga korban, mulai dari Rp300 juta hingga Rp400 juta, agar laporan polisi dicabut. Upaya ini mencerminkan apa yang ditulis Apriliana: bahwa suara-suara korban sering kali diredam oleh kekuatan ekonomi dan status sosial pelaku.

Mendobrak Dinding Kesunyian

Penangkapan Ashari di Petilasan Eyang Gunungsari, Wonogiri, setelah sempat berpindah-pindah tempat dari Jakarta hingga Solo, menjadi titik terang bagi keadilan. Namun, luka yang ditinggalkan tidak akan sembuh hanya dengan borgol di tangan pelaku.

Kementerian Agama telah membekukan kegiatan di Ponpes Ndholo Kusumo. Namun, sebagaimana pesan dalam Gadis Berkabung Senyap, perlawanan terhadap kekerasan seksual memerlukan keberanian untuk bicara. Apriliana Soekir menulis buku ini berdasarkan pengalaman pribadinya, dengan harapan “suara yang disuarakan dalam senyap bisa menjadi cahaya bagi yang lain”.

Bagi masyarakat Pati dan Indonesia, kasus ini adalah alarm keras. Gadis Berkabung Senyap mengingatkan kita bahwa di balik ketenangan sebuah lembaga pendidikan, mungkin ada jeritan yang dibungkam. Tugas kita sebagai masyarakat bukan hanya menonton, melainkan memastikan bahwa tidak ada lagi “Meta-Meta” lain yang harus berkabung dalam kesunyian yang dipaksakan.

Kasus ini kini dalam penanganan intensif Polresta Pati. Publik terus mendesak transparansi hukum agar predator seksual di lingkungan pendidikan tidak lagi mendapat ruang untuk bersembunyi di balik jubah agama.(*)

Penulis : Apriliana Soekir.

Related Articles

- Advertisement -

Terbaru