MAGETAN (BLOKJATIM.COM) – Bupati Magetan Nanik Sumantri bergerak cepat merespons krisis harga telur yang tengah menghimpit para peternak ayam petelur rakyat di wilayahnya. Melalui audiensi yang digelar di Ruang Jamuan Pendapa Surya Graha pada Senin (11/05/2026), Bupati menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk menyelamatkan sektor peternakan lokal dari ambruknya harga pasar.
Kondisi para peternak di Magetan saat ini memang cukup berat. Perwakilan peternak, Surohman, menyampaikan bahwa harga telur di tingkat peternak merosot tajam ke kisaran Rp19.000 hingga Rp21.000 per kilogram. Harga tersebut terpaut jauh dari Harga Acuan Penjualan (HAP) yang dipatok sebesar Rp26.500 per kilogram, sementara biaya produksi pakan terus mengalami fluktuasi yang tinggi.
“Kita berdiskusi bersama untuk memecahkan persoalan ini agar peternak rakyat tetap bisa bertahan. Aksi berbagi telur yang dilakukan beberapa hari lalu adalah gambaran nyata kondisi sulit yang mereka alami,” ujar Bupati Nanik Sumantri dalam pertemuan tersebut.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Bupati Nanik mengeluarkan sejumlah instruksi strategis. Salah satunya adalah mengimbau seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkup Pemkab Magetan untuk membeli telur langsung dari peternak lokal. Selain itu, Pemkab juga akan memaksimalkan serapan telur melalui program Satuan Pelayanan Pangan Bergizi (SPPG), di mana menu telur akan dihadirkan tiga kali seminggu dengan harga beli yang sesuai standar HAP.
Selain urusan serapan, Bupati juga menekankan pentingnya penguatan identitas produk melalui branding “Telur Magetan”. Langkah ini akan dikoordinasikan bersama Disperindag dan Disnakan guna memperluas jangkauan pasar. Pemkab juga akan memfasilitasi pengurusan administrasi usaha peternak dan melakukan pendataan populasi ayam di desa-desa melalui kerja sama dengan DPMD.
Dukungan kuat juga datang dari jajaran kepolisian. Kapolres Magetan, AKBP Erik Bangun Prakasa, menyatakan komitmennya untuk mengawal ketat distribusi telur dalam program pemerintah. Ia memastikan bahwa telur yang diserap untuk kebutuhan program gizi harus benar-benar berasal dari peternak asli Magetan.
“Kami akan kawal agar penyerapan telur lokal ini tepat sasaran. Ini adalah bentuk dukungan kami terhadap kebijakan Pemkab Magetan dalam meningkatkan kesejahteraan peternak rakyat,” tegas Kapolres Erik.
Dengan adanya kolaborasi antara Pemkab, kepolisian, dan asosiasi peternak, diharapkan stok telur yang sempat menumpuk dapat segera terserap pasar dengan harga yang adil, sehingga stabilitas ekonomi peternak di Magetan kembali pulih.(ton/red)

