Senin, April 27, 2026

Buy now

spot_img

Menjemput Kompetensi di Kota Bengawan: Catatan Perjalanan Seorang Wartawan

MAGETAN (BLOKJATIM.COM) – Akhir pekan bagi sebagian orang adalah waktu beristirahat. Namun bagi seorang jurnalis, Sabtu dan Minggu, 25–26 April 2026, justru menjadi titik penentuan perjalanan profesi. Di lantai dua Griya Solopos, Surakarta, Jawa Tengah, bukan sekadar ujian yang berlangsung, melainkan pergulatan batin antara keraguan dan keyakinan diri.

Ketika langkah kaki pertama kali memasuki ruangan itu, suasana terasa berbeda. Ada ketegangan yang tak terlihat namun terasa nyata. Seolah setiap dinding menyimpan cerita perjuangan para wartawan yang datang membawa satu harapan: pulang dengan pengakuan sebagai profesional.

Perjalanan menuju predikat Wartawan Madya sebenarnya telah dimulai jauh sebelum perjalanan darat menuju Solo dilakukan.

Semua berawal pada Kamis (23/4/2026), saat Pra-Uji Kompetensi Wartawan (UKW) dilaksanakan secara daring. Sebanyak 22 peserta dari berbagai jenjang mengikuti sesi pembekalan yang langsung menghadirkan Pemimpin Redaksi Solopos, Rini Yustiningsih. Nama yang di kalangan jurnalis identik dengan kedisiplinan tinggi dan ketegasan tanpa kompromi.

“Untungnya, Mbak Rini hanya membuka acara dan mengisi sesi daring. Beliau tidak menjadi penguji langsung kali ini,” kenang saya dengan embusan napas lega yang sempat tertahan.

Namun rasa lega itu hanya sementara. Ujian sesungguhnya menanti di akhir pekan.

Sabtu pagi, ketika Magetan masih tertutup kabut, perjalanan dimulai sejak jarum jam menunjuk angka lima. Jalanan yang sepi menuju Surakarta justru dipenuhi pikiran yang ramai. Dua jam perjalanan terasa singkat karena adrenalin sudah bekerja lebih dulu sebelum sampai di lokasi.

Sarapan sederhana di pinggir jalan dekat Griya Solopos menjadi momen yang terasa istimewa. Meja kayu sederhana itu mempertemukan para wartawan dari berbagai daerah—Nganjuk, Madiun, Ngawi, Banyuwangi, Bali, hingga Balikpapan. Latar belakang berbeda, media berbeda, tetapi tujuan mereka sama: meraih predikat Kompeten.

Di jenjang Madya, saya berhadapan dengan Ayu Prawitasari sebagai penguji. Sosok yang tenang dan sabar, namun memiliki standar disiplin yang sangat ketat. Tidak ada ruang untuk setengah siap.

Hari pertama berubah menjadi marathon intelektual. Sejak pukul 09.00 hingga 15.00 WIB, peserta diuji tentang penerapan Kode Etik Jurnalistik, hukum pers, hingga simulasi rapat redaksi. Setiap jawaban langsung dianalisis, setiap argumen diuji logikanya. Asesor bekerja layaknya detektif, mencari celah sekecil apa pun dalam cara berpikir seorang wartawan.

Malam hari menjadi ruang refleksi. Di sebuah kamar hotel dekat lokasi, saya bersama dua rekan memilih kamar triple bed. Namun kasur empuk tidak langsung mengantarkan tidur. Diskusi kecil berlangsung panjang—saling mengoreksi, berbagi kecemasan, sekaligus menguatkan satu sama lain menghadapi hari kedua yang diyakini lebih berat.

Minggu (26/4/2026) benar-benar menjadi babak final.

Peserta diminta mengikuti rilis pers, menyusun resume, hingga membuat berita feature. Tantangan tidak berhenti di sana. Sebagai calon Wartawan Madya, kami juga harus menunjukkan kemampuan menyunting berita serta mengikuti rapat redaksi bersama jenjang Utama untuk merancang agenda pemberitaan.

Setiap kata yang ditulis harus memiliki tanggung jawab. Setiap keputusan redaksi harus memiliki landasan jurnalistik yang kuat.

Menjelang sore, tepat pukul 16.00 WIB, suasana ruangan mendadak sunyi. Pengumuman hasil akhir menjadi momen yang paling menegangkan. Dari 22 peserta, 20 dinyatakan kompeten, sementara dua lainnya harus kembali berjuang di kesempatan berikutnya.

Saat nilai dinyatakan baik dan penguji merekomendasikan kompeten, rasa hangat perlahan memenuhi dada. Momen itu bukan sekadar soal sertifikat Dewan Pers, tetapi tentang perjalanan panjang membuktikan diri.

“Terima kasih Griya Solopos, Mbak Rini, Mbak Ayu, Mas Beni, Mas Danang, dan seluruh mentor yang telah memberikan ‘cambukan’ ilmu yang luar biasa.”

Bagi saya sendiri, Anton Suroso, dan rumah saya Lensamagetan.com, perjalanan ini menjadi sebuah kado berharga. Sebuah penegasan bahwa kerja keras, proses belajar, dan ketekunan tidak pernah mengkhianati hasil.

“Kita sudah membuktikan bahwa kita hebat dan kuat. Kini, saatnya kita melangkah lebih jauh, tumbuh bersama, dan memastikan bahwa setiap informasi yang kita sajikan adalah karya jurnalistik yang bermartabat dan diakui secara profesional.”

Kompetensi bukanlah garis akhir. Ia justru menjadi titik awal perjalanan baru—untuk terus belajar, menjaga integritas, dan menghadirkan jurnalisme yang tidak sekadar cepat, tetapi juga benar dan bertanggung jawab.(*)

Related Articles

- Advertisement -

Terbaru