MAGETAN (BLOKJATIM.COM) – Lonjakan kasus Diabetes Melitus (DM) di Kabupaten Magetan kian mengkhawatirkan. Sayangnya, tingginya angka penderita penyakit gula ini belum diimbangi dengan kesadaran akan risiko komplikasi fatal pada mata, yakni Retinopati Diabetik, yang dapat memicu kebutaan permanen.
Isu krusial ini mengemuka dalam diskusi program Eye Care Everywhere (I-SEE) yang diinisiasi oleh Yayasan Para Mitra Indonesia. Lembaga ini menyoroti masih renggangnya celah penanganan antara penyakit diabetes dan kesehatan mata di fasilitas kesehatan tingkat pertama.
Direktur Yayasan Para Mitra Indonesia, Asiah Sugiyanti, membeberkan bahwa mayoritas pasien diabetes di Magetan tidak menyadari bahwa kadar gula darah yang tidak terkontrol dalam jangka panjang secara perlahan merusak pembuluh darah retina.
“Banyak temuan kasus diabetes melitus di Puskesmas yang cukup tinggi. Namun, layanan deteksi dini untuk Retinopati Diabetik di tingkat fasilitas kesehatan dasar masih sangat terbatas,” ungkap Asiah.
Menurut data surveilans Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat, saat ini tercatat sekitar 3.000 kasus diabetes melitus di seluruh wilayah Magetan. Ironisnya, dari ribuan data tersebut, angka pasti penderita yang mengalami komplikasi mata belum terpetakan dengan akurat.
Hal ini terjadi karena Puskesmas umumnya belum memiliki fasilitas memadai untuk mendiagnosis kerusakan retina.
“Data pasien diabetesnya ada di Dinkes, tetapi untuk diagnosis komplikasi mata (retinopati) biasanya baru tercatat di rumah sakit. Puskesmas belum memiliki alat khusus untuk pemeriksaan tersebut,” tambahnya.
Faktor minimnya alat medis di Puskesmas diperparah oleh rendahnya kesadaran masyarakat. Asiah menyayangkan kebiasaan warga yang baru berkonsultasi ke dokter mata ketika fungsi penglihatan mereka sudah telanjur menurun drastis.
Padahal, idealnya pasien diabetes wajib menjalani skrining mata minimal satu kali dalam setahun, tanpa harus menunggu munculnya gejala.
Jika pola penanganan dan edukasi masyarakat tidak segera dibenahi, Magetan menghadapi ancaman serius dalam beberapa tahun mendatang.
Risiko Nyata yakni lonjakan angka kebutaan akibat komplikasi diabetes.
Prediksi waktu potensi ledakan kasus diproyeksikan terjadi dalam kurun waktu 5 hingga 10 tahun ke depan. Solusinya yakni dengan penguatan edukasi masif dan kolaborasi lintas sektor.
“Jika kita tidak bergerak cepat dari sekarang, potensi lonjakan kasus Retinopati Diabetik di masa depan sangat besar. Ini adalah lampu kuning yang harus kita respons bersama,” tegas Asiah.
Di akhir diskusi, Yayasan Para Mitra Indonesia mendesak adanya gerakan edukasi yang lebih agresif. Para penyandang diabetes diimbau untuk bersikap proaktif melakukan pemeriksaan berkala ke dokter spesialis mata demi menyelamatkan penglihatan mereka sebelum terlambat.(ton/red)

