MAGETAN (BLOKJATIM.COM) – Pembangunan Rumah Kemasan di Kabupaten Magetan yang menelan anggaran fantastis sebesar Rp 2,3 miliar kini berada dalam sorotan tajam. Alih-alih menjadi motor penggerak ekonomi bagi pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM), fasilitas yang dibangun sejak 2020 ini dinilai telah beralih fungsi menjadi ruang perkantoran dan sekadar “pajangan” birokrasi.
Kondisi ini memicu reaksi keras dari Forum Rumah Kita. Melalui Divisi Data dan Sumber Daya, Agus Pujiono, menilai ada ketimpangan besar antara gagasan awal pemerintah yang brilian dengan implementasi di lapangan yang berujung sia-sia.
Agus Pujiono memberikan apresiasi terhadap visi Pemerintah Kabupaten Magetan dalam merancang ekosistem UMKM. Menurutnya, konsep mengintegrasikan Rumah Kemasan untuk branding dan Rumah Promosi untuk pemasaran adalah langkah yang sangat inovatif.
“Pemerintah Kabupaten Magetan sebenarnya patut diapresiasi karena sangat kreatif. Ide membangun pusat desain dan produksi kemasan untuk mendongkrak UMKM lokal itu visioner dan patut dicontoh,” ujar Agus kepada media, Rabu (25/2/2026).
Namun, pujian tersebut diikuti dengan kritik pedas. Agus menyayangkan bagaimana anggaran miliaran rupiah dari uang rakyat tersebut justru tidak dirasakan manfaatnya oleh para pelaku usaha kecil.
“Inovasi tersebut tidak diimbangi dengan implementasi nyata. Akibatnya, anggaran besar yang sudah digelontorkan justru terasa boros. Kalau tidak segera diperbaiki, program bagus ini hanya akan menjadi monumen proyek yang kurang berdampak,” tegasnya.
Tak hanya itu, Agus juga menyoroti bahwa sinkronisasi antara Rumah Kemasan dan Rumah Promosi seharusnya menjadi senjata utama Magetan dalam membendung produk luar dan memperkuat produk lokal. Secara teori, setelah produk UMKM di-branding dengan kemasan apik di Rumah Kemasan, mereka seharusnya langsung masuk ke Rumah Promosi untuk proses marketing.
“Semua digelontor dengan dana miliaran, hanya saja semua seperti monumen tanpa bisa dirasakan. Harusnya ini jadi fasilitas yang hidup, bukan malah menyatu dengan kantor dinas dan terkesan eksklusif,” tambah Agus.
Kekecewaan senada sebelumnya juga dilontarkan oleh Ketua Forum IKM Magetan, Ahmad Baiquni, yang menyebut fasilitas tersebut kini tak lebih dari “kenang-kenangan terpendam”. Para pelaku usaha kini justru lebih memilih jasa desain swasta karena akses ke Rumah Kemasan yang dianggap rumit dan birokratis.
Hingga berita ini ditayangkan, Kepala Disperindag Magetan, Sucipto, belum memberikan keterangan resmi terkait kondisi Rumah Kemasan maupun Rumah Promosi. Tanpa evaluasi serius, proyek yang diharapkan menjadi jembatan bagi UMKM untuk melakukan test market hingga produksi massal ini terancam menjadi simbol kegagalan tata kelola aset daerah.(*)

