MAGETAN (BLOKJATIM.COM) – Panggung perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-5 Paguyuban Kesenian Reog Ponorogo Gagrak Magetan menjadi bukti nyata bahwa seni tradisional tak lekang oleh waktu. Digelar di Plaza Ndoyo Magetan pada Sabtu (6/6/2026), acara ini menyuguhkan kolaborasi epik yang mempertemukan para seniman lintas generasi dalam satu panggung besar.
Pertunjukan ini tidak sekadar menjadi hiburan visual bagi masyarakat, tetapi juga simbol kuat berjalannya estafet pelestarian budaya. Mulai dari para pegiat seni senior (sesepuh) hingga anak-anak tampil kompak membawakan kesenian Reog dengan penuh energi.
Pengurus Paguyuban Kesenian Reog Ponorogo Gagrak Magetan, Andri Agus Setiawan, menyampaikan rasa bangganya atas kesuksesan acara ini. Keterlibatan aktif generasi muda menjadi sinyal positif bahwa seni Reog di Magetan memiliki masa depan yang cerah.
“Yang luar biasa bukan hanya penontonnya, tapi para pemainnya juga lintas generasi. Dari yang sudah sepuh sampai anak-anak kecil ikut tampil bersama,” kata Andri di sela-sela acara.
Tingginya animo masyarakat bahkan membuat lokasi pertunjukan dipadati lautan manusia. Andri mengakui bahwa kapasitas tempat yang disediakan panitia sempat kewalahan menampung antusiasme warga yang membeludak. Fenomena ini, menurutnya, menjadi indikator kuat bahwa kecintaan masyarakat terhadap Reog masih sangat tinggi.
Selain misi pelestarian budaya, event tahunan ini terbukti membawa dampak domino yang positif bagi sektor ekonomi riil di Magetan, khususnya bagi para pelaku ekonomi kreatif dan UMKM di sekitar lokasi.
Melihat potensi besar tersebut, Andri berharap ke depannya ada dukungan fasilitas yang lebih mumpuni dari pihak terkait agar pergelaran serupa bisa berjalan lebih maksimal.
Karena event ini mampu menghidupkan sektor ekonomi kreatif lokal. Sehingga, membutuhkan ruang publik atau tempat pertunjukan yang lebih representatif demi kenyamanan penonton yang terus bertambah.
Memasuki usia kelima, fokus utama paguyuban adalah konsistensi dalam menjaga akar budaya melalui edukasi dini. Andri menegaskan, pelibatan anak-anak muda dalam setiap panggung adalah benteng utama agar budaya lokal tidak terasing di rumah sendiri.
“Harapan kami, anak-anak muda tetap mau berbudaya dan mengenal budaya asli Indonesia, khususnya Reog Ponorogo. Ini yang harus terus kita jaga bersama,” tutupnya.(ton/red)
Penulis : Anton Suroso. Redaktur : Redaksi

