MATARAM (BLOKJATIM.COM) – Lembaga Kajian Sosial dan Politik Mi6 secara resmi mengusulkan agar Pekan Olahraga Nasional (PON) XXII Tahun 2028 memberikan panggung bagi olahraga tradisional rakyat. Langkah ini dinilai mendesak guna menyelamatkan warisan budaya Nusantara dari ancaman kepunahan di tengah gempuran modernisasi.
Direktur Mi6, Bambang Mei Finarwanto, menegaskan bahwa PON seharusnya tidak sekadar menjadi ajang berburu medali dan prestasi olahraga modern. Lebih dari itu, pesta olahraga terbesar di Indonesia tersebut harus mengambil peran strategis sebagai benteng pelestarian kebudayaan bangsa.
“Indonesia ini kaya akan kearifan lokal, termasuk ratusan jenis permainan dan olahraga tradisional dari Sabang sampai Merauke. Sayangnya, ruang aktualisasinya minim sehingga mulai dilupakan generasi muda. Kami mengusulkan agar PON 2028 memberi ruang, minimal sebagai cabang eksibisi,” ujar pria yang akrab disapa Didu tersebut di Mataram, kepada Blokjatim.com, Minggu (5/7/2026).
Didu memaparkan, integrasi olahraga tradisi ke dalam multi-event sekelas PON tidak harus dilakukan secara ekstrem. Format kategori eksibisi dianggap sebagai langkah awal yang paling realistis. Melalui skema ini, setiap daerah dapat mengirimkan perwakilan untuk memperkenalkan olahraga khas mereka yang sudah berkembang di masyarakat.
Format eksibisi ini juga mempermudah proses standardisasi mulai dari regulasi pertandingan, sistem penilaian, hingga pembinaan atlet secara terstruktur tanpa mengganggu jalannya agenda utama PON.
Secara khusus, Didu juga mendorong Ketua KONI NTB, Mori Hanafi, untuk mengawal aspirasi ini di tingkat pusat. Sebagai salah satu tokoh olahraga, Mori diharapkan mampu memperjuangkan agar olahraga tradisional rakyat mendapat tempat khusus berupa venue eksibisi pada pergelaran PON mendatang.
“Olahraga tradisional itu bukan cuma soal menang-kalah. Di dalamnya ada memori kolektif bangsa, nilai gotong royong, sportivitas, dan pendidikan karakter. Kehilangan olahraga tradisi berarti kita kehilangan sebagian jati diri bangsa,” cetus Mantan Direktur Eksekutif WALHI NTB tersebut.
Selain misi penyelamatan budaya, Mi6 melihat kehadiran permainan rakyat di arena PON akan membawa dampak instan (multi-efek) yang positif bagi sektor pariwisata dan ekonomi kreatif di daerah tuan rumah. Keragaman budaya yang ditampilkan diyakini mampu menjadi daya tarik magnetis bagi wisatawan dan penonton yang hadir.
“Kita ingin PON masa depan bertransformasi menjadi etalase kebudayaan Indonesia yang utuh. Jadi, saat masyarakat berkumpul, mereka tidak hanya menonton olahraga modern, tetapi juga disuguhi kekayaan tradisi Nusantara,” tambahnya.
Guna merealisasikan gagasan besar ini, Mi6 merekomendasikan sejumlah langkah strategis kepada para pemangku kepentingan, di antaranya:
Inventarisasi Bersama: Mendorong KONI, Kemenpora, Kementerian Kebudayaan, dan Pemerintah Daerah untuk segera memetakan olahraga tradisional yang potensial.
Standardisasi Aturan: Menyusun regulasi permainan yang jelas dan sistem penilaian yang terukur agar bisa dikompetisikan dengan adil.
Regenerasi Akar Rumput: Memasukkan olahraga tradisional ke dalam kurikulum atau kegiatan ekstrakurikuler di sekolah-sekolah dan komunitas lokal.
Didu mengingatkan bahwa pelestarian ini merupakan bentuk investasi kebudayaan jangka panjang. Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu merawat akar sejarahnya sendiri.
“Prestasi di kancah global itu penting, namun menjaga warisan leluhur tidak kalah krusial. PON 2028 adalah momentum emas untuk mengawinkan semangat prestasi olahraga dengan pelestarian budaya bangsa,” pungkas Didu.(ton/red)

