MAGETAN (BLOKJATIM.COM) – Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3 Magetan resmi memulai tahun ajaran baru dengan menggelar Matamuda (Masa Ta’aruf Murid Madrasah). Sebanyak 250 siswa baru dinyatakan diterima dan siap mengikuti rangkaian pengenalan lingkungan sekolah yang dikemas secara humanis serta menyenangkan.
Kepala MAN 3 Magetan, Basuki Prihatin, M.Pd., menegaskan bahwa Matamuda tahun ini mengedepankan prinsip kegembiraan dan dipastikan bebas dari segala bentuk perundungan (bullying) maupun tekanan fisik dan mental.
“Kegiatan Matamuda pada dasarnya basic-nya adalah pengenalan madrasah. Kegiatannya cenderung pada aktivitas yang senang dan menggembirakan. Tidak ada pembully-an, tidak ada tekanan. Intinya anak-anak diajak senang bersekolah dan senang dengan teman-temannya untuk mencapai tujuan ke depan,” ujar Basuki.
Rangkaian kegiatan Matamuda ini dijadwalkan berlangsung selama tiga hari, mulai hari Senin hingga Rabu. Seluruh siswa baru akan diajak untuk mengenali jajaran guru, sekolahan, hingga adaptasi dengan lingkungan madrasah.
Tak berhenti di situ, setelah Matamuda selesai, pihak sekolah langsung menyambung kegiatan dengan agenda luar ruangan.
“Setelah kegiatan Matamuda, nanti diteruskan pada hari Kamis malam Jumat langsung kegiatan perkemahan, yaitu perkemahan tamu untuk anak-anak kelas 10. Setelah itu, hari Seninnya sudah mulai pembelajaran normal,” urai Basuki.
Ada capaian menarik pada penerimaan siswa baru tahun ini. MAN 3 Magetan mencatatkan kenaikan jumlah siswa yang cukup signifikan. Jika melirik tahun ajaran lalu jumlah lulusan berada di angka 212 siswa, kini murid yang masuk melonjak hingga 250 siswa, artinya ada penambahan lebih dari satu kelas.
Dengan tambahan ini, MAN 3 Magetan mengukuhkan posisinya sebagai Madrasah Aliyah Negeri dengan jumlah siswa terbanyak di Kabupaten Magetan.
“Total siswa kita sekarang terbesar di Magetan, yaitu 810 siswa. Untuk kategori MAN Negeri loh ya, ada MAN 1, 2, dan 3, kita yang terbesar,” ungkapnya.
Uniknya, komposisi siswa baru di MAN 3 Magetan didominasi oleh perempuan sebesar 60 persen. Selain itu, demografi asal siswa juga sangat beragam dan tidak hanya berasal dari wilayah Magetan saja.
Dominasi Gender, 60% Siswa Perempuan dan asal daerah, lokal Magetan, Jakarta, Banten, hingga luar Pulau Jawa.
Menurut Basuki, keberagaman asal daerah ini terjadi lantaran lokasi MAN 3 Magetan yang berdekatan dengan pondok pesantren. Banyak santri dari luar Jawa yang menempuh pendidikan di pondok, namun memilih MAN 3 Magetan untuk sekolah formalnya.
Saat ditanya mengenai dinamika pendaftaran tahun ini, Basuki mengonfirmasi bahwa tren berjalan stabil dan mengalir tanpa adanya lonjakan (letupan) yang sifatnya mendadak. Hal ini terbilang prestasi tersendiri mengingat adanya tantangan penurunan jumlah anak usia sekolah.
“Kalau ini kan hampir dirasa sama di semua sekolah, mengalir biasa saja. Apakah karena keadaan masyarakat yang anak usia sekolahnya semakin berkurang, kita tidak tahu pasti. Tapi yang jelas, kita memenuhi kuota dan pagu yang ditentukan,” pungkas Basuki.(ton/sof)

