Minggu, Juli 12, 2026

spot_img

Menjaga Nyala Api 1963, Ratusan Pesilat Boedi Oetomo Larut dalam Ziarah Leluhur di Magetan

MAGETAN (BLOKJATIM.COM) – Udara bulan Suro di Kabupaten Magetan selalu membawa atmosfer yang berbeda. Di tengah riuh rendahnya modernitas, ratusan pasang kaki melangkah dengan khidmat menyusuri jalanan Magetan. Mereka bukan sedang menggelar pawai biasa, melainkan sedang menunaikan sebuah janji setia kepada sejarah, yakni Ziarah Leluhur Pencak Silat Boedi Oetomo (BO).

Lebih dari 500 warga perguruan, termasuk mereka yang menempuh perjalanan jauh dari Kabupaten Wonogiri berkumpul menjadi satu. Momentum peringatan 10 Suro (Asyura) ini menjadi waktu sakral bagi para pesilat untuk menundukkan kepala, mengirim doa, dan merawat ingatan tentang sebuah perguruan yang lahir dari rahim perjuangan pemuda Islam.

Rangkaian ritual tahunan ini dimulai dari kawasan Jalan Raung. Tujuan pertamanya sangat monumental, yaitu makam Mbah Abdul Kholiq Subolo, sang peletak batu pertama sekaligus pendiri utama Pencak Silat Boedi Oetomo.

Ketua Umum sekaligus Guru Besar Pencak Silat Boedi Oetomo PS BO, Drs. Suyono, yang memimpin langsung jalannya ziarah, menjelaskan bahwa perjalanan spiritual ini tidak berhenti di satu titik. Rombongan besar ini bergerak layaknya untaian tasbih, mengunjungi satu per satu makam para sesepuh yang telah mendahului mereka.

Dari makam Mbah Abdul Kholiq, ziarah berlanjut ke makam tokoh-tokoh kunci lainnya seperti: Supriyono, Marwawi, dan Mbah Waji. Marto, Eyang Nrangkusumo, Mbah Ngatnan, hingga Mbah Wuryanto Soetomo. Kuswarso (di Selosari), Mbah Mangun Tioso (di Tawang Anom), dan Kyai Haji Supandi (di Kopek).

“Ini adalah tradisi tahunan. Sebuah bentuk penghormatan dan doa terbaik kami kepada para guru serta leluhur yang telah meletakkan dasar berdirinya perguruan ini,” ujar Suyono dengan nada takzim, Minggu (12/7/2026).

Untuk memahami mengapa ziarah ini begitu emosional bagi anggotanya, kita harus memutar jarum jam kembali ke tahun 1963. Tahun di mana Pencak Silat Boedi Oetomo resmi lahir di bumi Magetan.

Lahir di tengah ketidakpastian situasi politik era 1960-an, Boedi Oetomo bukanlah sekadar organisasi olahraga bela diri. Perguruan ini dibentuk oleh semangat menyala para pemuda pelajar Islam yang gelisah. Mereka ingin menjaga keamanan negara sekaligus mempertahankan nilai-nilai keagamaan yang mulai terancam saat itu.

Suyono menceritakan bagaimana beratnya perjuangan masa awal. “Boedi Oetomo ini bernafaskan agama. Pada masa awal berdiri, para pendiri harus berlatih secara berpindah-pindah dari satu rumah ke rumah lain. Semua dilakukan secara senyap demi menghindari gangguan pihak luar,” kenangnya.

Tak hanya berlatih fisik, para pesilat awal ini juga turun langsung ke medan konflik, bahu-bahu menjaga stabilitas keamanan ketika gejolak politik melanda daerah.

Ada yang berbeda dari pelaksanaan ziarah tahun ini. Meski sejatinya ritual ini jatuh tepat pada tanggal 10 Asyura, pihak pengurus legawa untuk menggeser waktu pelaksanaan. Langkah ini diambil setelah berkoordinasi matang dengan aparat keamanan setempat.

Keputusan ini menjadi bukti nyata bahwa filosofi Pencak Silat Boedi Oetomo yang mengutamakan keluhuran budi bukan sekadar slogan. Dengan menyesuaikan jadwal, mereka berhasil menghindari potensi gesekan antarpaguyuban silat lain yang juga memiliki agenda di bulan Suro.

Bagi ratusan pesilat yang hadir, ziarah ini bukan sekadar rutinitas menggugurkan kewajiban. Ini adalah momen recharge spiritual. Melalui tradisi ini, generasi muda Boedi Oetomo diajak untuk melihat cermin masa lalu, menghargai keringat keringat pendahulu, dan mempererat tali persaudaraan (silaturahmi) yang mungkin mulai renggang akibat kesibukan duniawi.

Suyono berharap, api semangat tahun 1963 yang dibawa oleh Mbah Abdul Kholiq Subolo dan para sesepuh lainnya tidak akan pernah padam di tangan generasi zilenial dan alfa saat ini.

“Harapan kami, tradisi ini terus lestari. Ini adalah sarana terbaik bagi kami untuk merawat sejarah, sekaligus memastikan bahwa persaudaraan antarwarga perguruan tetap sekokoh akar pohon yang ditanam para leluhur,” pungkasnya menutup perbincangan.(ton/red)

Related Articles

- Advertisement -

Terbaru