MAGETAN (BLOKJATIM.COM) – Kehadiran Kampus Universitas Negeri Surabaya (Unesa) di Kabupaten Magetan tidak sekadar memperluas akses pendidikan tinggi, namun juga menjadi motor penggerak baru bagi daya saing sumber daya manusia (SDM) dan perekonomian daerah.
Dukungan nyata terhadap keberadaan kampus negeri ini salah satunya datang dari praktisi pendidikan lokal. Kepala SMPN 4 Magetan, Sukadi, menilai Unesa memberikan ruang yang sangat luas bagi putra-putri daerah untuk mengenyam pendidikan tinggi berkualitas tanpa perlu terbebani biaya hidup tinggi di luar kota.
Berdasarkan data yang dihimpun, jumlah lulusan asal Magetan yang memilih menempuh studi di Kampus Unesa Magetan mencatatkan tren kenaikan yang cukup signifikan.
“Untuk angkatan tahun 2024 dan 2025 saja, tercatat sudah ada 882 mahasiswa asal Magetan yang menempuh studi di Unesa Kampus Magetan,” ujar Sukadi saat memberikan keterangannya, Rabu (22/7/2026).
Ia menambahkan, untuk penerimaan mahasiswa baru tahun ajaran 2026, proses pendataan akhir masih terus berjalan. Meski demikian, dari estimasi sementara, angka pendaftar dan mahasiswa yang diterima dipastikan kembali menyentuh ratusan orang.
Tidak hanya berdampak pada jenjang sarjana (S1), kemitraan dan keberadaan Unesa di Magetan juga menyentuh peningkatkan kualifikasi para pendidik. Sukadi mengungkapkan bahwa pada tahun 2026 ini, puluhan guru di Magetan mendapatkan kesempatan emas untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
“Tahun 2026 ini ada 21 guru di Magetan yang mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studi S2 dan S3 di Unesa,” jelasnya.
Menurutnya, peningkatan kualifikasi akademik tenaga pendidik ini secara langsung akan mendongkrak mutu pembelajaran di sekolah-sekolah yang ada di Magetan, sehingga menciptakan multiplier effect bagi kualitas pendidikan dasar dan menengah.
Hadirnya Unesa sekaligus menjawab tantangan klasik yang kerap dialami keluarga di Magetan, di mana calon mahasiswa sering mengurungkan niat kuliah lantaran tingginya biaya perantauan ke kota-kota besar seperti Surabaya, Malang, Solo, maupun Yogyakarta.
Selain mentransformasi sektor pendidikan, konsentrasi massa mahasiswa di sekitar kampus turut memantik perputaran ekonomi rakyat. Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), mulai dari penyedia rumah kos, warung makan, jasa transportasi, hingga usaha percetaka mulai merasakan dampak positif dari perputaran uang yang mencapai miliaran rupiah per bulan.
Ke depan, integrasi antara aktivitas akademis, potensi pariwisata Telaga Sarangan, dan sektor pertanian unggulan diproyeksikan mampu melahirkan identitas baru bagi Magetan sebagai kota pendidikan yang inklusif, maju, dan berdaya saing tinggi.(ton/red)

