Senin, Juni 22, 2026

Buy now

spot_img

Ikan Dewa di Telaga Sarangan Makin Langka, Pemancing Diminta Lepas Kembali jika Terpancing

MAGETAN (BLOKJATIM.COM) – Populasi ikan dewa di Telaga Sarangan, Kabupaten Magetan, dilaporkan mengalami penurunan drastis. Saat ini, diperkirakan hanya sekitar 20 persen populasi yang mampu bertahan akibat tekanan ekosistem dan dominasi ikan invasif yang semakin masif.

Padahal, pada sekitar tahun 2019 lalu Pemkab Magetan menebar sebanyak 10 ribu bibit di Telaga Sarangan agar bisa berkembang biak dengan baik.

Kepala Bidang Pengembangan Perikanan, Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Kabupaten Magetan, Ir. Bambang Eko Tjahjo Purnomo, menjelaskan bahwa upaya konservasi ikan dewa di kawasan wisata tersebut menghadapi tantangan yang sangat kompleks.

“Kondisi sekarang yang eksis saya perkirakan sekitar 20 persen. Ikan yang tersisa memang sudah berukuran besar, sekitar 50 sentimeter, namun permasalahan utamanya adalah ikan invasif yang sudah lebih dulu ada akibat penebaran liar oleh masyarakat,” ungkap Bambang.

Bambang memaparkan bahwa keberadaan ikan invasif seperti nila, lele, hingga jenis ikan hias seperti oscar dan louhan yang sempat ditebar sembarangan oleh warga, menjadi predator bagi anakan ikan dewa. Selain itu, karakteristik fisik Telaga Sarangan yang kini menjadi kawasan wisata aktif dengan aktivitas perahu turut mengganggu habitat alami ikan dewa yang membutuhkan ketenangan.

“Ikan dewa itu butuh tempat tenang dan air mengalir untuk berpijah (berkembang biak). Masalahnya, ketika mereka bertelur, anakan ikan dewa seringkali habis dimangsa ikan invasif sebelum sempat tumbuh besar,” tambahnya.

Untuk mengatasi ancaman tersebut, Disnakkan Magetan telah membentuk Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) di berbagai perairan umum daratan, termasuk di Telaga Sarangan dan Telaga Wahyu. Kelompok ini melibatkan unsur pemerintah desa, aparat penegak hukum, dan pemerhati lingkungan.

“Orientasi Pokmaswas ini bukan mencari profit, melainkan kelestarian lingkungan. Kita ingin masyarakat sadar bahwa menebar ikan sembarangan tanpa izin sangat merugikan ekosistem asli,” tegas Bambang.

Terkait upaya pemijahan buatan, pihak Disnakkan mengaku sudah berhasil melakukannya secara teknis. Namun, terdapat kendala besar dari sisi biaya dan keterbatasan sarana. Bambang menyebut bahwa membudidayakan ikan dewa untuk tujuan komersial kurang menguntungkan karena pertumbuhan yang lambat dan biaya pemeliharaan yang tinggi.

Oleh karena itu, Disnakkan lebih fokus pada fungsi pembinaan. Pihaknya mengimbau masyarakat untuk tidak menangkap ikan dewa yang tersisa di telaga. “Jika saat memancing tidak sengaja mendapatkan ikan dewa, kami mohon untuk segera dikembalikan ke telaga demi menjaga kelestarian hayati kita,”tegasnya.

Hingga saat ini, Disnakkan terus melakukan koordinasi dengan pengurus Pokmaswas setempat guna memastikan pengawasan di kawasan Telaga Sarangan tetap berjalan meski di tengah tantangan keberagaman ekosistem yang kompleks.(ton/red)

Related Articles

- Advertisement -

Terbaru