MAGETAN (BLOKJATIM.COM) – Rencana pengembangan Kampus 5 Universitas Negeri Surabaya (Unesa) di kawasan perkotaan Magetan mendapat sorotan tajam dari tokoh masyarakat sekaligus aktivis senior daerah, Hananto. Ia mengingatkan pemerintah daerah dan pihak kampus agar tidak gegabah menggunakan aset daerah di lokasi strategis jantung kota.
Hananto menilai, narasi pemerataan akses pendidikan tinggi dan dongkrak ekonomi UMKM yang diusung Unesa terkesan menjadi propaganda klasik. Ia menegaskan, pemanfaatan lahan eks tanah bengkok di Kelurahan Kebonagung, Kecamatan Magetan, berpotensi memicu masalah baru jika dipaksakan.
“Jika dipaksakan berdiri di jantung kota, bisa dipastikan muncul potensi konflik sosial. Sebagai perguruan tinggi negeri (PTN) besar, Unesa seharusnya mandiri dalam pengadaan lahan, bukan terus-menerus mengandalkan skema hibah aset daerah,” ujar Hananto saat ditemui, Sabtu (22/8/2026).
Hananto menguraikan tiga catatan kritis yang harus dipenuhi sebelum Unesa melanjutkan ekspansi kampus di Magetan yakni, optimalisasi Lahan Lama dengan melakukan evaluasi total penggunaan lahan hibah seluas hampir 17 hektare di Kelurahan Maospati yang hingga kini dinilai belum dimaksimalkan fungsinya.
Lokasi pengembangan kampus tidak boleh berada di pusat kota Magetan untuk mencegah kepadatan dan gesekan sosial, serta Unesa diharapkan menyiapkan dan membeli lahan secara mandiri tanpa membebani atau mengikis aset milik Pemerintah Kabupaten Magetan.
Lebih lanjut, Hananto menyayangkan berkurangnya aset daerah eks tanah bengkok yang dialihfungsikan. Menurutnya, Pemkab Magetan bersama Unesa seharusnya mengukur dampak konkret dari hibah lahan Maospati sebelum melangkah ke pengajuan hibah baru.
“Evaluasi dulu berapa persen dampak ekonomi dan pendidikan yang benar-benar dirasakan masyarakat dari hibah lahan di Maospati. Jangan sampai aset daerah terus berkurang, tapi dampaknya belum nyata dirasakan warga,” tegasnya.(ton/red)

