MAGETAN (BLOKJATIM.COM) – Peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia di Kelurahan Tambran, Kecamatan Magetan, menyisakan catatan penting terkait sinergi antara pemerintah tingkat lokal dan para pelaku seni daerah. Gelaran kesenian Reog Ponorogo oleh kelompok Sardulo Manggolo Tambran pada Sabtu (29/8/2026) yang mulanya digagas untuk menyemarakkan syukuran kemerdekaan, justru menyisakan kekecewaan di pihak seniman akibat sumbatnya pola komunikasi publik.
Sorotan tersebut mengemuka ketika atraksi budaya dan kirab yang melintasi kawasan depan Kantor Kelurahan Tambran mendapati fasilitas kantor setempat dalam kondisi tertutup tanpa adanya sambutan resmi dari pimpinan wilayah.
Pimpinan Reog Sardulo Manggolo Tambran, Andri Agus Setiawan, menilai momentum perayaan kemerdekaan semestinya menjadi ajang pelestarian identitas budaya yang disambut hangat oleh pemangku kebijakan setempat, bukan sekadar urusan seremonial administratif.
“Kami sudah menyampaikan pemberitahuan. Namun, kami menyayangkan ketiadaan dialog langsung atau kehadiran dari pihak kelurahan saat acara berlangsung. Kesenian ini adalah identitas warga yang butuh ruang dan penghargaan,” ujar Andri, Sabtu (29/8/2026).
Andri menekankan bahwa ruang dialog terbuka sangat krusial agar pegiat seni tradisional merasa diampu dan diapresiasi saat berjuang menjaga warisan budaya di tingkat bawah.
Sementara itu, menanggapi gejolak tersebut, pihak Kelurahan Tambran memberikan penjelasan konstruktif. Lurah Tambran, Dimas Witri Mardika, menjelaskan bahwa kelurahan pada dasarnya mengapresiasi dan mendukung penuh setiap kegiatan kebudayaan masyarakat. Namun, ia menggarisbawahi pentingnya tata kelola administrasi formal untuk memastikan alur koordinasi berjalan presisi.
Dimas mengonfirmasi bahwa pemberitahuan yang diterima pihaknya baru sebatas lisan melalui perantara pengurus RW, tanpa dilengkapi surat resmi yang masuk ke meja kerja kelurahan.
“Secara administrasi resmi memang belum ada surat masuk. Kendati demikian, kami tetap berupaya mendukung penuh, mulai dari memfasilitasi pengurusan izin ke Polsek hingga menyiapkan sarana pendukung seperti speaker wireless dan konsumsi,” terang Dimas.
Ia menambahkan, ketidakhadiran jajaran utama kelurahan di lokasi acara terjadi lantaran adanya agenda pelayanan publik lain di wilayah selatan Tambran yang berlangsung pada waktu bersamaan.
Atas ketidaknyamanan yang muncul akibat riak komunikasi tersebut, Dimas secara terbuka menyampaikan permohonan maaf dan berkomitmen menjadikan peristiwa ini sebagai momentum pembenahan tata kelola pelayanan serta komunikasi publik di lingkungan Kelurahan Tambran.
“Kami memohon maaf atas miskomunikasi yang terjadi. Ini menjadi bahan evaluasi besar bagi kami untuk memperbaiki pola koordinasi ke depan, terutama ketika ada agenda masyarakat yang berjalan bersamaan dengan program kelurahan,” tambahnya.
Peristiwa di Kelurahan Tambran ini menjadi pengingat penting bahwa pelestarian seni tradisi tidak hanya membutuhkan semangat dari para seniman, tetapi juga kepekaan dan keterbukaan komunikasi dari aparat pemerintah lokal. Sinergi yang harmonis antara regulasi administratif dan pendekatan apresiatif dipandang sebagai kunci utama agar seni budaya daerah terus mendapat panggung terhormat di rumahnya sendiri.
Rangkaian pagelaran dan kirab budaya Sardulo Manggolo Tambran sendiri tetap berjalan menyusuri rute Jalan Seno, Jalan Pandu, kawasan depan Kantor Kelurahan Tambran, Jalan Pahlawan, Jalan P. Sudirman, hingga kembali ke titik awal.(ton/red).

